tentang penganiayaan wartawan

disclaimer

Tulisan ini merupakan murni sebuah opini dari penulis. tidak ada maksud untuk memihak kiri atau kanan, mendukung atau memojokkan salah satu pihak. karena opini, maka info yang didapat bukanlah info aktual dari sumbernya, melainkan dari pemberitaan yang beredar. jika memang ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, penulis mohon maaf. jika tidak suka dengan topiknya, silahkan pergi ke website lain. terima kasih.

******

penganiayaan wartawan. topik ini menjadi hangat beberapa hari terakhir, karena salah satu perwira TNI-AU tertangkap kamera sedang menganiaya seorang wartawan yang sedang meliput. hal ini diawali dengan jatuhnya pesawat tempur jenis Hawk 200 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) di Riau, Selasa (16/10/2012). saya tahu perkara ini pertama kali dari twitter. karena penasaran akhirnya saya melihat.

jujur reaksi saya pertama kali adalah kaget. kok bisa TNI AU yang selama ini tak pernah terdengar gaung masalah, akhirnya bermasalah juga. setahu saya sih mereka jarang banget kedapatan kasus seperti ini. dan caught on the camera? something banget lah. memang beberapa waktu terakhir terjadi serangkaian kecelakaan pesawat dari TNI. tapi menganiaya wartawan? hmmm…

pada awalnya, saya cuek-cuek saja dengan kejadian ini. tapi lama-kelamaan jadi jengah juga dengan pemberitaan yang semakin santer, baik di media cetak hingga elektronik. kebanyakan pemberitaan memihak wartawan. saya tidak mendengar pemberitaan dari versi TNI. yang disorot selalu dari sisi wartawannya. ya jelas lah. secara ini yang jadi korban adalah salah satu elemen media. mereka menuntut keadilan supaya kedepannya tidak akan terjadi hal seperti ini lagi. jika hal ini dibiarkan, bisa jadi wartawan semakin diremehkan.

tapi pernahkan kalian berfikir, bagaimana kalau ternyata korbannya adalah TNI AU itu sendiri. lho kok? ya ini baru seumpama saja ya. baru khayalan diriku semata.

bagaimana kalau korbannya justru dari TNI AU sendiri?

sekarang coba dipikir, yang namanya TNI itu tugasnya adalah melindungi negara. salah satu elemen dalam negara adalah rakyatnya. jadi tugas mereka salah satunya adalah melindungi rakyatnya, CMIIW. nah setahu saya, semua anggota TNI,baik itu dari tingkat terendah hingga tertinggi, dilarang menyakiti warga, apalagi menganiaya. jika hal ini terbukti, maka hukumannya sangat berat dan bisa-bisa melebihi hukuman rakyat biasa.

yang jadi pikiran saya, apa yang dilakukan oleh si wartawan hingga para anggota TNI AU tersebut mengamuk?

Apa? ini yang menjadi tanda tanya besar bagi saya. karena tidak ada asap jika tak ada api. tidak akan ada kejadian seperti ini jika tidak ada pemicunya. jadi, APA?

hal ini masih menjadi tanda tanya besar, karena dari pihak TNI AU sendiri belum membuka mulut. terkesan tutup mulut? saya rasa bukan. mungkin mereka tak mau gegabah mengeluarkan informasi. karena salah statement sedikit saja bisa mencoreng nama baik TNI AU.

ah! kan sudah tercoreng nama baiknya…
okelah kalau sudah tercoreng, tapi mengapa kita tidak berfikiran dengan asas praduga tak bersalah? toh salah satu pihak belum mengeluarkan pernyataan. bagaimana kita bisa bilang kalau TNI AU jelas-jelas bersalah? dalam keseharian kita aja, kalau kita disuruh menilai seseorang bersalah atau tidak, harus mendengarkan dari dua belah pihak. kalau kita baru dengar dari satu pihak saja, itu namanya penilaian subyektif.

jadi kamu memihak TNI AU?
saya kan sudah bilang diawal tulisan, bahwa tulisan ini merupakan murni sebuah opini dari penulis. tidak ada maksud untuk memihak kiri atau kanan, mendukung atau memojokkan salah satu pihak.

tapi kenapa kamu seolah-olah membela TNI AU, dan tidak mendukung wartawan?
hhmm, begini. Saya juga pernah menjadi seorang jurnalis/wartawan, walaupun sekarang saya tidak berkecimpung di dunia itu lagi. Jujur, itu adalah IMPIAN saya yang terbesar, karena nikmatnya menjadi seorang jurnalis adalah saya menjadi orang pertama yang mengetahui suatu kejadian dengan detail sebelum diberitakan ke masyarakat melalui media.

Saya juga pernah berurusan dengan aparat, merasakan kerasnya aspal maupun kepalan tangan. Berada dibawah terik matahari atau guyuran hujan demi mendapatkan sekelumit informasi, lalu secepat kilat pergi ke tempat lain untuk melengkapi informasi tersebut. berada diantara kerumunan massa yang sedang mengamuk atau dikemacetan jalan karena adanya huru-hara ataupun kecelakaan. saya tahu betapa berharganya setetes peluh maupun perjuangan seorang wartawan demi mendapatkan sebuah berita yang akhirnya disajikan ke masyarakat melalui media. saya tahu, karena saya pernah berkecimpung disana. oleh karenanya saya bisa beropini seperti ini.

Sejak Alm Gus Dur menjabat menjadi Presiden, Indonesia memasuki masa kejayaan dalam hal pemberitaan. Departemen Penerangan dihapus, yang berimbas pada semakin suburnya media di tanah air. ibarat tanah tandus, begitu mendapatkan air maka ia meminta lebih, lebih dan lebih. akhirnya media tumbuh semakin subur tanpa ada pengawasan. semakin banyak orang yang menjadi wartawan, tanpa ada pengetahuan mengenai menulis ataupun etika dalam kegiatan jurnalistik. kesemrawutan ini akhirnya membuahkan Kode Etik Jurnalistik dan sekaligus mengukuhkan keberadaan Undang-Undang Republik Indonesia No 40 Tahun 1999 mengenai Pers.

Dalam Pasal 5 ayat 1 UU Pers tertulis:

Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.

sekarang jika melihat pemberitaan tentang penganiayaan ini, adakah asas praduga tak bersalah didalamnya? adakah pemberitaan yang imbang dan tidak menyudutkan salah satu pihak?

saya tak sedikit melihat beberapa pemberitaan yang terkesan menyudutkan salah satu pihak yang akhirnya menimbulkan sebuah opini publik. walaupun ada juga pemberitaan yang sengaja dibuat untuk menggiring maupun mengalihkan perhatian publik dari salah satu kasus.

tapi sulit juga jika kita, yang notabene masyarakat biasa, menuntut wartawan maupun media untuk menyajikan berita yang imbang dan adil. secara masyarakat kita suka sesuatu yang bombastis dan berita yang berbau kebobrokan salah satu pihak, baik itu instansi negara ataupun swasta. karena untuk mencari keburukan itu lebih mudah daripada mencari kebaikan dari suatu hal.

Ada baiknya kita, sebagai masyarakat biasa, sadar bahwa kita bisa menyaring segala informasi yang diberitakan. Sudah saatnya kita tidak ikut-ikutan menyudutkan salah satu pihak lalu berteriak atas nama kebebasan. Sudah waktunya kita berfikir secara nalar dan logika, untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Jikalau ternyata memang beberapa perwira TNI AU tersebut yang bersalah, maka itu kemenangan bagi para wartawan dalam mencari keadilan. Namun jika ternyata dari wartawan tersebut yang salah, apakah kita akan menutup mata dan mencari pembenaran lainnya?

tidak selamanya media itu berlaku sebagai malaikat, atau elemen negara menjadi setan, terlebih di keadaan semrawutnya Indonesia saat ini.

5 comments

  1. gajah_pesing · October 18, 2012

    gegara kasus ini juga, ada 2 blogger yang (hampir) berseteru karena … ya itu tadi… perbedaan sudut pandang😀

    • tu2t widhi · October 18, 2012

      Perseteruan tak akan terjadi jika mereka menyikapinya dengan santai.. soalnya toh salah satu pihak lom angkat bicara. So, marilah kita tunggu kelanjutannya..

      Beda perkara ama kasus penganiayaan salah satu perwira polisi kpd seorang anak berusia 11th yg kapan lalu mencuat.. itu sudah kelihatan motifna jadi kita bisa memberikan penilaian…

      Semoga teman2 dan masyarakat indonesia bisa menilai, tanpa harus gegabah…

  2. Bumiputra · October 19, 2012

    Opini anda bagus sekali, hampir mendekati opini saya. Sebenarnya sebelum kejadian ini salah satu wakil ketua DPR RI dari partai kuning menyampaikan kekesalannya dengan wartawan bodrek (istilah beliau) dan hal itu diliput oleh media. Tidak bisa dipungkirin zaman skrg banyak sekali wartawan yg berkeliaran bukan cuman cari berita tapi juga mencari “duit setan” yang akibatnya susah kita membedakan antara wartawan profesional atau bodrek. Kejadian yg terjadi di Riau tersebut perlu ada transparasi berita yg tidak mengiring opini publik u menjelekkan TNI AU semata saja. Kedua belah pihak perlu ada kejujuran dalam menyampaikan jawaban. Sehingga masyarakat bisa melihat kejadian itu dengan sesuai apa yg sebenarnya yang terjadi.

  3. Fenty · October 19, 2012

    nunggu mushroom komen disini😀

    • tu2t widhi · October 21, 2012

      Aq kok jadi grogi ya kalo mushroom ikutan komen:/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s