[FIKSI] Teror

“Heh! Kamu! Kalau kerja yang niat! Bisanya cuman ngerepotin orang lain. Bikin laporan saja tak bisa!”

Dewi melempar berkas laporan ke wajah Tia. Tia hanya bisa terdiam. Dipungutinya berkas laporan yang mengenai wajahnya. Satu persatu.

“Cepat! Ngambil begituan saja lambat!” suara Dewi semakin tinggi. Tatapan Dewi semakin menjadi. Ia ingin Tia enyah dari hadapannya.

Satu-persatu berkas yang berceceran terambil oleh Tia. Perlahan ia mundur dan membalikkan badannya. Nafasnya mulai berat. Tangannya menggenggam erat laporan itu.

Perlahan-lahan Tia berjalan meninggalkan Dewi. Selangkah demi selangkah. Tatapannya mulai kosong. Wajahnya berubah datar, tanpa ekspresi. Selangkah demi selangkah, ia melewati meja teman-temannya. Namun tak ada yang berani menyapa Tia.

Waktu seakan berjalan sangat lambat bagi Tia. Bahkan untuk mengangkat kakinya, ia merasa berat. Tiba-tiba lampu ruangan mati.

Nyala…

Kembali mati,

dan tak lama kemudian nyala lagi.

Ruangan mulai gaduh. Ada yang menutup telinga dengan kedua tangannya. Ada yang tak henti-henti menyebut nama Tuhan. Dan tak sedikit yang teriak ketakutan.

Tia tetap melangkah. Selangkah demi selangkah. Namun udara disekitarnya terasa berat. Hingga akhirnya Tia sampai di mejanya, dan duduk, dengan raut wajah datar dan tatapan kosong.

“Heh! Siapa kamu! HEH! SIAPA KAMU! HEH!! JANGAN MENDEKAT! JANGAN!! TIDAAAAAAAKKK!!!”

******

 “Sebuah ledakan terjadi di gedung Alfabetha pukul 11 pagi hari tadi. Lebih dari 300 orang karyawan di gedung tersebut mengalami luka-luka. Hingga saat ini korban yang telah dievakuasi sebanyak 315 orang. Diduga masih ada beberapa orang lagi yang terjebak di dalam gedung. Hingga berita ini diturunkan, Tim Gegana masih memeriksa apakah ada bom lain yang dipasang di gedung ini. Tim Liputan 1 melaporkan langsung dari Gedung Alfabetha.”

******

 “tadi itu… mengerikan sekali..”

“iya. Tiba-tiba saja udara menjadi dingin dan mencekam..”

“Tia! Dimana Tia?” seorang perempuan bergegas keluar dari kerumunan dan mendapati Tia duduk di trotoar.

“Tia.. kamu tak apa-apa? Tia??” perempuan itu memandangi Tia dengan seksama. Tia terdiam dengan pandangan kosong dan wajah datar, seakan tak peduli dengan riuhnya suasana hari itu. “Syukurlah Tia kamu tak terluka. Dewi sepertinya tak selamat. Tapi syukurlah tak terjadi apa-apa padamu.”

Perempuan itu memeluk Tia. Tia-pun menunduk.

Dan senyumpun tersungging dari bibir Tia

******

Jumlah: 345 kata

Ini flash fiction pertama? Ini flash fiction ya? Ya.. mau buat cerpen juga bingung. Si Sulung kalo bikin cerpen atopun flash fiction keren banget sih. Ya.. berhubung pertama, saya minta tanggapannya yaaa… tengkyu~

20 comments

  1. Dunia Ely · March 13, 2013

    Harus baca berkali kali dulu nih, sebelum benar benar kasih tanggapan🙂

    • tu2t widhi · March 13, 2013

      kenapa begitu? susah dicerna ya?

      • Dunia Ely · March 13, 2013

        Terus terang aku jarang baca fiksi, belum begitu tertarik, jadi kalau mau berkomentar hrs baca berkali kali dulu kalau enggak mau dibilang komentarnya ngasal😛

        Si Tia tersenyum apa karena tahu Dewi nggak selamat ya ?

        • tu2t widhi · March 14, 2013

          Hoo.. begitu toh.. hehehehe..

          Si Tia tersenyum karena sebenarnya Tia yg menyebabkan semua ini terjadi. Itu ledakan terjadi karena Tia sudah tak kuat menahan perasaan yang selalu ditindas. lemparan berkas laporan ke wajahnya itu yg membuat tia merasa terhina. Kemarahan tak terbendung mengakibatkan aura di sekitarnya pekat.. dan boom!

          Ecchan menaruh hal supranatural disini xD

  2. NijiNoOu · March 13, 2013

    Premis ceritanya bagus, chan. Tapi untuk cerita horor mini kurang kena moodnya. Kurang mencekam. Agak susah sih ya memang ngerangkum satu cerita jadi cerita mini. Coba deskripsikan keadaannya lebih detil dengan kalimat yang lebih panjang. がんばって!

    • tu2t widhi · March 13, 2013

      Thank you.. next story chan perjelas lagi situasinya.. sankyu sha!

  3. sulunglahitani · March 13, 2013

    Aa Ecchan, Sulung mah ga jago. Masih dalam tahap belajar juga:mrgreen:
    Klo Ecchan emang mau buat FF, ada beberapa hal yg penting nih:
    -FF itu fiksi singkat dg ending yg ngetwist
    -twist berarti ending cerita diputarbalikkan/dplintir/tak tertebak
    -FF itu fiksi singkat dg jumlah kata kurng dari 500 kata
    -karena fiksi singkat, makanya mesti padat
    -meskipun singkat, bukan berarti asal-asalan. Dg kata lain, msti tetap ada logika penceritaan gitu (kecuali temanya mistis/fantasi)

    Untuk cerita Ecchan sendiri, sudah cukup bagus. Cuma masih agak bingung. Hubungan antara teriakan itu, berita ttg bom, dan senyuman terakhir si tokoh apa ya? Apa cerita ini ttg deja vu? ada yg hilang rasanya.

    Oya, kalo Ecchan mau ikutan belajar bkin FF juga, mending ikut tantangan menulis FF kaya di blog Sulung. Biasanya kan kalo kita ditantang, ada alasan buat berpikir keras. Hehe

    • tu2t widhi · March 14, 2013

      Dirimu beneran jago, pak guru ;0; aq suka ama gaya penuturanmu. Bhub aq suka nulis tapi tak suka baca novel itu mgk yg bikin ecchan sulit nulis fiksi T.T

      Thx berat sarannya. Ecchan mau coba lagi. Dan kalo ecchan coba lagi, saya minta sarannya lagi yaaaa :’)

      • sulunglahitani · March 14, 2013

        sulung ga terlalu suka baca novel lho, ecchan. guru belajar sulung dalam nulis fiksi itu cerpen2 kompas minggu🙂
        siip🙂

        • tu2t widhi · March 14, 2013

          oh yaaaa???
          ini beberapa temen sih ngasih referensi dari fanfic.. bahasa inggris sih.. ya ecchan pelajari caranya bikin cerita. dan cerpen kompas itu asyik2 ternyata😄

  4. della · March 14, 2013

    Tia punya super power terpendam ya? Enggak boleh dibikin marah ni, hehehe..

    • tu2t widhi · March 14, 2013

      iyup.. tapi superpowernya itu.. gimana yah.. susah digambarkan dengan kata2😛
      hehe.. masih belajaran juga jadi masih bingung bikin plot😛
      makasih dah baca ya, mbak😀

  5. Benedikta Sekar · March 14, 2013

    Tia enggak ikut meledak? Korbannya banyak itu? Bukannya saat kejadian si Tia masih di mejanya? Lokasi Tia sama Dewi bukannya berselisih meja-meja aja? Ko bisa selamat? Oh ya, si Dewi bosnya Tia? *dicincang Kak Widhi karena kebanyakan nanya*

    Emmmh, mungkin komentarnya mirip2 aja sama Kak Sulung dan Kak NijiNoOu. Hehehe. Cuman ada sedikit tambahan, penggambaran awalnya yang tentang lampu kelap-kelip seperti itu malah bikin saya berpikir bahwa bencana yang ditimbulkan bukan ledakan, melainkan gempa. plus suasana yang orang2 berteriak dan berdoa, semakin yakin kalau itu sebuah gempa bumi. Jadi cukup shock dan kaget waktu tahu kalau itu bukan gempa, melainkan bom.

    Selain itu, kalau saya jadi Tia, saya tentu enggak akan mengambil risiko untuk tetap masuk kantor sementara saya berencana meledakan kantor tersebut. Saya akan diam-diam memasang bom di kantor tersebut di pagi buta atau kapan saja. Lantas mengendalikan pemicu/tombol jarak jauh atau menyetel jamnya.

    Selain itu, saya masih bingung dengan dialog ini—>
    “Heh! Siapa kamu! HEH! SIAPA KAMU! HEH!! JANGAN MENDEKAT! JANGAN!! TIDAAAAAAAKKK!!!” ini siapa yang ngomong ya? Dewi? Ini dia ngomong sama siapa?
    Ngomong sama Tia? Errr, bukannya Tia masih kursi. Yah, bagian ini agak ngeblur sih. Jadi saya masih bingung apa yang terjadi sebenarnya. Dewi ini mati karena ledakan atau dibunuh seseorang?

    Yah, sampai sini aja review saya. Hihihi, terima kasih ya Kak, atas tulisannya. Membuat saya semakin sadar bahwa membully orang lain dan membuat orang lain sakit hati adalah sesuatu yang sangat jahat. Sebagai manusia memang harus saling menjaga perasaan. Terima kasih!

    • tu2t widhi · March 14, 2013

      waw! pertanyaannya banyak!
      itu berarti ecchan kurang jelas menceritakan tentang tia dkk yah? xixixixi berarti diriku belum berhasil.. hiks!

      yah.. 1st try never be good.. trims udah membaca.. hehe

  6. mrfzx · March 15, 2013

    idenya menarik.
    tapi rasanya perlu mnggirng pembaca kedalam nuansa non teknis yg ingin diciptakan.
    awalnya saya tidak mencerna ledakan sbagai sesuatu yg abstrak🙂

    • tu2t widhi · March 15, 2013

      hihi.. thx udah mau baca ya..
      dan ecchan memang harus banyak belajar dan berlatih ^^

      • mrfzx · March 15, 2013

        sip, belajar itu keharusan
        karakter Tianya dapet banget. suka dgn senyuman terakhirnya. merinding🙂

  7. ryan · March 15, 2013

    suka sih ide ceritanya.
    tapi mungkin sama seperti kebanyakan yang lainnya, masih bingung dengan kenapa bisa begini kenapa begitunya.
    Soal Tia balas dendam, sudah dapat ditebak, tapi gimana bisa meledakkan bom, kekuatan Tia, dll, ini yang kurang.
    Rasanya kamu bisa kok nulis lebih panjangan dikit – jangan terkurung dengan FF aja. tulis aja cerpen biar lebih detail digambarkannya.

    Atau coba-coba lagi nulis format lainnya, biar kamu tahu, seperti apa sih kamu dalam menulis.
    Saya suka dengan ending yang twisted… dan cerita-cerita yang gak ketebak. jadi saya angkat jempol untuk Ecchan. And Salam kenal ya…

    • tu2t widhi · March 15, 2013

      salam kenal mas..
      iya nih.. bener2 newbie di nulis fiksi/cerpen.. jadi masih belum ngerti harusnya bagaimana😀
      makasih udah membaca ya, mas ^^

      • ryan · March 15, 2013

        sama-sama. suka kok bacanya. ya mungkin lebih detail aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s