tulisan tentang IRT vs ibu pekerja

CAPEK MANA?

Kita, ibu rumahtangga ini, tanpa sadar sering jadi ratu drama. Merasa diri menjadi orang paling teraniaya sedunia.

Kamu kan ibu rumahtangga juga,segitunya amat sih men-judge sesama?

Lha justru karena saya ini ibu rumahtangga, maka saya bisa menilai seberapa drama-nya saya grin emoticon

Gimana nggak drama, kalau yang saya baca adalah artikel yang hanya mendukung penilaian tinggi tentang diri saya saja. Dan mengelu-elukan profesi saya yang konon paling mulia sejagat raya.

Suatu ketika, di saat emosi sedang mencapai puncaknya, dan kelelahan fisik mendera, kita pernah donk berandai-andai jadi ibu pekerja.. yang wangi berseri setiap pagi, dengan dandanan natural dan tas yang selalu ganti..

Sedang kita masih seperti serigala kesurupan membangunkan anak-anak yang susah makan. Belum mengurusi kaus kaki suami yang keselip entah kemana.. segala keruwetan dunia sepertinya tertumpah ke kita semata.

Kita akan berfikir, sekaligus jumawa, kira-kira bisa nggak ya, ibu pekerja itu melakukan hal-hal yang kita lakukan ini? Makan siang sambil nyebokin anak BAB, tidur siang sambil berdiri (asli ini pernah saya lakukan saking lelahnya momong dua Balita), menggoreng ikan sambil menggiling pakaian sekaligus menggendong bayi, dan mendongeng buat kakaknya.. bisa nggak ya?

Sedangkan mereka pagi-pagi sudah cantik, seolah tinggal mengurusi diri sendiri saja. Anak-anak ada asisten yang entah mengapa betah kerja bertahun-tahun dengan mereka, sedang asisten kita tiap bulan minta resign karena tak betah punya majikan ibu rumahtangga..

Uang, mereka jelas ada. Suami..nggak kalah ganteng dengan suami kita. Status sosial..oh mereka di atas kita. Kita kalah telak kalau mau bersaing dengan mereka. Ditambah entah mengapa kecantikan mereka rasanya di atas rata-rata. Lengkaplah sudah penderitaan kita..

Apa bisa mereka melakukan apa yang kita lakukan?

Padahal.. di sisi lain..

Saat ibu cantik itu melewati rumah kita ketika hendak berangkat kerja, mereka ingat akan kerinduan menyuapi nasi goreng ke perut anaknya.

Perjalanan menuju kantor itu sendiri tidak pernah mudah. Apalagi tinggal di ibukota yang kalau dituruti, jalan raya ini bisa bikin gila.

Mereka harus berdesakan dengan banyak orang di dalam kereta, di dalam bis kota. Berpeluh-peluh padahal matahari belum juga tinggi.. bisakah kita melewati pagi dengan hiruk pikuk begini?

Di kantor..tumpukan pekerjaan menanti. Bos ngomel tiada henti. Deadline menunggu ditepati. Sementara pembantu di rumah SMS melaporkan si bayi yang panas tinggi.. bisakah kita melalui hari semacam ini?

Kita makan siang sambil nyeboki. Mereka bisa jadi tak sempat makan karena jam istirahat harus ia tebus untuk memompa ASI. Atau lari ke apotek demi membeli obat si bayi..

Kita punya suami yang sangat mengerti. Gajinya tak pernah dianggap uangnya sendiri. Mereka yang kita anggap punya uang tak berseri itu, bisa jadi tak pernah menikmati uangnya sendiri karena cicilan menanti. Atau suami yang tak tahu diri.

Kita masih bisa menunda PR anak di siang hari, ketika lelah, untuk dikerjakan malam nanti. Tapi mereka, tak boleh ada kata lelah sepulang kerja. Karena anak mana pernah bisa ditunda. Mengingat hanya malam yang mereka punya.

Kita bisa menyegerakan tidur kala badan serasa habis digebuki. Toh esok masih ada hari. Tapi mereka hidup untuk anak dan suami hanya pada malam hari. Esok pagi berarti tak ada hari yang terluang kembali.

Kalau ini yang terjadi pada kita.. bisa jadi kita yang lebih dulu menyerah daripada mereka.

Kita lelah, itu sudah pasti. Ibarat petani, kita sedang memasuki mongso labuh. Masa menanam yang capeknya lahir dan batin.
Tapi bukan berarti ibu yang bukan ibu rumahtangga memiliki level kelelahan di bawah kita. Mana pernah kita tahu di balik seragam cantik itu, ada sepotong hati yang pilu?

Seorang ibu, apa pun profesinya, adalah ibu terbaik untuk anak-anak mereka.

Mari jadi ibu rumahtangga yang fokus mengurus rumah kita saja. Biarlah mereka dengan dunia dan rumah mereka. Tak perlu membandingkan. Apalagi menyesali pilihan. Ingatlah selalu, dalamnya masalah setiap orang tak pernah ada yang tahu

Karena menjadi ibu, mau bekerja ataupun tidak bekerja, dia tetap orang yang melahirkan anak-anaknya.

Salam ibu rumahtangga – Wulan Darmanto

tulisan ini bener banget.
tahukah kamu hatiku tercabik-cabik ketika harus meninggalkan bayi belum genep 2 bulan untuk kerja. apalagi pas sakit, mau gak mau absen dengan konsekuensi bakalan kena SP bahkan dipecat karena bayinya sakit lebih dari seminggu selama 2 bulan berturut-turut.

sudahlah nggak usah iri ama ibu pekerja. kamu gak tahu bagaimana mereka mengatur hati dan pikiran sedemikian rupa di kantor. seharusnya kamu bersyukur bisa dirumah mengurus anak dan rumah walaupun itu juga tidak mudah. toh, kalo anak2nya udah gede dan bisa ditinggal, bisa kerja kan?

sudah ya, nggak usah menilai lebih mulia mana, IRT atau ibu pekerja. sama-sama mulianya. karena apapun yang mereka lakukan itu demi kelangsungan keluarganya. sekarang tinggal kamunya memilih, mau ngurusin rumah tangga atau kerja. capek mana? sama capeknya.. percaya deh..

~dari seorang ibu yang dulunya bekerja kantoran, sekarang menjadi ibu yang bekerja dirumah. simpelnya, kini menjadi IRT~

19 comments

  1. denaldd · October 30, 2015

    Yang terpenting adalah melakukan yang terbaik untuk setiap pilihan hidup yang kita ambil. Hidup itu lek jare wong jowo kan sawang sinawang yang ga bakalan ada habisnya. Ga perlu melabeli ini dan itu apalagi sampai dibubuhi dalil agama. Ga perlu lagi juga memperpanjang debat atau opini yang tak berkesudahan yang ujungnya malah saling mendzolimi sesama ibu, toh buat apa. Kebutuhan masing2 orang berbeda. Kita adalah yang terbaik dengan segala kelebihan atas setiap pilihan yang kita jalankan *duh kok bu MarTeg ae aku haha.

    • tu2t widhi · October 30, 2015

      Hahaha… hai bu MarTeg :p
      Bener itu. Kebutuhan masing2 keluarga berbeda2. Mau mutusin kerja apa nggak, itu pilihan.

      Hanya saja, nggak sedikit temen2ku yg ibu2 itu ngejudge kalo ibu pekerja itu nelantarin anaknya demi uang. Lha kita kan gk tau pintu rejeki datengnya dari mana. Bisa dari si istri kan?

      Kadang temen yg bapak2 ikut memperkeruh suasana. Huft..

    • ndu.t.yke · October 30, 2015

      Bener kata Ibu Maria Tegar😆 urip iki sawang sinawang. Tp hrs diingat bahwa everybody fights their own battle we don’t know nothing about. So just try to be nice and no need to say anything if it isnt a nice thing to say. *Ibu MarGris: Maria Keminggris*

  2. nyonyasepatu · October 30, 2015

    Hahah tetep ya ini rame aja. Yg paling penting yg menjalaninnya ikhlas dan happy aja deh

  3. Vicky Laurentina · October 30, 2015

    Kita ini ibu rumah tangga. Ibu-ibu kantoran rela membunuh demi bisa berada di posisi kita.

    *ah, nggak juga sih*
    *lebay*

    Dulu aku selalu diajarin bahwa meskipin cuma tinggal di rumah, penampilan kita harus wangi seperti Ira Wibowo. Rambut rapi disisir, pakai parfum, dan alis dilukis.
    Ketika bayi datang dan mengambil alih semua waktu kita, pada akhirnya kita menyadari bahwa kebegoan kita adalah salah mengatur prioritas. Jika kita memang memprioritaskan keputusan kita untuk mengasuh anak, maka tidak akan ada penyesalan untuk memilih meninggalkan pekerjaan kantoran.

    • tu2t widhi · October 30, 2015

      Hahaha.. lebay..
      Btw aq no regret kok ninggalin drama kantoranku hehe

  4. dani · October 30, 2015

    Huaaaa. Tema yang selalu akan abadi sepanjang masa. Karena bukan buibu dan karena gak pernah berada di posisi mereka gw cuma bisa bilang damai di dunia. Peace! 😛

    • tu2t widhi · October 31, 2015

      Bener.. abadi jaya sentosa, dan. Aqnya sih mau damai. Temen2 di timeline fb biasanya ngajak gelut hahaha

  5. arvietrida · October 30, 2015

    Ecchan, to be honest, cita2ku itu kepengen jadi IRT, tapi sampe sekarang masih belum kesampean😦. Katakanlah aku sudah dapet gelar PhD pun, aku akan terus berusaha mencapai cita2ku yang sebenarnya (bagi beberapa orang, termasuk aku:D, itu butuh suatu keberuntungan luar biasa untuk mendapat kesempatan itu). Banyak yg bilang aku akan menyia2kan gelar akademisku, you’ll made a stupid decision and bla bla and so on, but I won’t care bout it, since I do believe that I won’t “waste” my education experience for “just” being a full time house wife.
    Apalagi sejak aku stay disini, IRT itu dihargai banget, ga dibedain sama wanita karir. Entah kenapa di Indonesia itu telah menjadi budaya untuk mendiskreditkan IRT. Rasanya pola pikir itu ngga bagus untuk men”ciptakan” generasi penerus bangsa yang lebih baik, kalau kita ingin membuat Indonesia itu maju, hehee
    Sudah ah…aku mau bertapa lagi kayak Musashi…T.T
    Selamat jadi IRT ya chann….^^…….

    • tu2t widhi · October 31, 2015

      Makasiiih nit..
      Eh nit.. suatu hari kamu bisa kok jadi irt, dan ttg gelar akademis kita gak bakalan percuma kok.. akupun masih ingin sekolah s2. Dan nantinya kalau memungkinkan, aq mau homeschooling anakku juga kok.. met berjuang ya, nit!

      • arvietrida · December 9

        ehh..aku lelet pol reply-nya.
        Iyaa..betull..huhu.. kamu juga met berjuang ya! toh menuntut ilmu juga sunnah Rasul.

  6. warm · November 5, 2015

    saya jd inget dengan temen yang memutuskan utk berhenti bekerja karena tak dibolehin cuti hamil, baru hamil aja perjuangannya begitu berat, apalagi pas bekerja, iya agak OOT sih, intinya apapun yg ibu lakukan tentunya demi keluarga, terutama anak2nya, menurut saya demikian *serius sekali komen saya euy*

    • tu2t widhi · November 5, 2015

      Lho bener itu.. masing2 kehamilan veda, ada yg gak rewel, ada yg rewelnya minta ampun.. dan cuti hamil itu hak karyawan lho.. harusnya perusahaan memberikannya. Tapi ya, keadaan saat ini gak begitu ok sih ya..

  7. adelinatampubolon · November 13, 2015

    senyum-senyum sendiri bacanya. dua sisi yang sama-sama baik sich mbak asal benar-benar dilakukan dengan rela dan iklas. hehehe salam kenal mbak ecchan🙂

    • tu2t widhi · November 13, 2015

      salam kenal mbak adelina..
      iya emang semua pilihan itu ada baik buruknya. yang penting masing2 pihak gak perlu lah jadi cinderella yang merasa paling apes sedunia.. hehehe

  8. Housepro Mitrayasa · November 18, 2015

    Pusing denga urusan bersih2?? Cleaning service MURAH di jakarta, hasil berkualitas dan staff proffesional dan disupervisi mulai dari RP 90rb/100m2 hubungi HOUSEPRO SERVICES di WA 081286917009/021 720 6276 http://www.houseproservices.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s