Sebagai pengingat..

image

Screencaps dari fb

Terkadang sayapun lupa kalau sekarang saya hidup tidak sendiri lagi. Dan menganggap anak umur 18 bulan sudah bisa mengerti dengan apa yang kukerjakan itu terlalu berlebihan.

Biasanya saya diuji kesabarannya ketika dikejar tenggat dimana harus rombak total desain dan itu dikerjakan siang hari. Sebel? Jelas. Lebih sebel ama keputusan bos klien yg seenak udelnya punya inspirasi lalu ubah materi total. Apa yg saya korbankan? Janji untuk main dengan anak.

Namanya juga janji. Mau gak mau anaknya nagih kan? Dan ketika kubilang “bentar ya sayang, bunda selesaikan ini dulu biar nanti bisa main ama adek. Tolong adek main sendiri bentar, ato jangan ganggu tangan bunda sementara ya, biar bunda bisa selesaikan lebih cepat, terus main ama adek”.

Namanya juga anak umur 18 bulan. Dia bisa bersabar tapi tidak dalam waktu lebih dari 1jam. Dia akan mulai menagih janji sampai akhirnya dia akan melakukan apapun untuk menghentikan apa yang sedang  saya lakukan. Biasanya saya akan bilang “adek sabar ya. Bunda belum selesai. Sabar ya sayang” lalu ia akan duduk sambil cemberut seperti emoticon ( -3-)

Suatu hari, ia terlalu lelah bersabar, dan saya diuji dengan beberapa faktor pendukung untuk stress: pc hang, mati lampu, tenggat tinggal 2jam, dan proses pengerjaan sudah 5jam. Belum ditambah anaknya yang manjat-manjat badan, minta nenen, naik-naik meja dan lain sebagainya supaya diperhatikan. Sempat saya teriak “adek! Nanti jatuh sayang!” Dan ketika saya menghampiri dia sambil menggendongnya, senyum kemenangan terkembang di wajahnya. “Yes, i’ve won!”, mungkin itu pikirnya. Tapi saya lanjut mengerjakan kerjaan dan dia kembali pasang muka ( -3-)

Sampai akhirnya dia super kesal dan menggigit bisep saya sampai membiru, lalu lari sembunyi sambil tertawa 😑. Saya sadar, dia ingin diperhatikan, ingin diajak bermain dan lain-lain. Tapi kalau hati dan pikiran sudah super kesal, apa yang terjadi? Membentak. Ya, saya membentaknya. “Adek! Sakit!” Namun dia sudah lari sembunyi duluan.

image

Hore berantakan!

Setelah selesai, sudah kirim semuanya dan tak ada revisi lagi, saya hampiri dia sambil bilang “adek, bunda sudah selesai kok. Ayo kalau gk percaya, ini di depan adek bunda matikan komputernya” setelah komputer mati, saya peluk dia sambil berkata “maaf bunda tadi sampai bentak2 adik. Bunda tahu kalau adik sebal sama bunda karena apa yg bunda lakukan tidak kunjung selesai. Tapi kalau ada pekerjaan harus segera diselesaikan, sayang. Bunda harap kedepannya adik akan mengerti dengan pekerjaan bunda ya,” sambil memeluknya..

“Nda..” ujarnya “tutatuduayayaem.. titutuanaem,” jawab dengan bahasa bayinya sambil membalas pelukanku, lalu ia “muuah! Muah muah muah!” Adek mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke pipi. Dan hatiku rasanya lumer seketika.

Bentakan pada balita itu berbahaya. Anakku pernah dibentak oleh pengasuhnya, dulu. Jangankan bentak, bahkan dipukul punggungnya hingga kini memiliki bekas. Apa efeknya?

1. Anakku takut dengan teriakan atau suara manusia yang keras. Ia langsung bersembunyi dibalik badanku sambil memeluk dengan erat.
2. Jika diingatkan dengan nada tinggi, ia langsung shock. Ini terlihat dari reaksi wajahnya, lalu ia lari dan memelukku seakan merajuk agar saya tidak marah kepadanya.
3. Mudah lelah. Jika terlalu lelah, punggungnya kaku dan bekas pukulannya akan terlihat.

Simpelnya, trauma. Trauma masa kecil yang akan diingat sepanjang masa.

Selalu jadi pelajaran untuk saya, untuk bersabar, lebih bersabar menghadapi anak balita. Terlebih sahabat-sahabatku sangat paham, jika saya bukan pecinta anak-anak, sebelumnya. Selalu berusaha mengingat jika bentakan/teriakan bisa memutuskan/mematikan jaringan otaknya dengan seketika itu juga padahal diusia itulah tumbuh kembang otak sedang pesat-pesatnya. Selalu berusaha untuk mengajarkan aturan-aturan dan mengenai baik ataupun buruk dengan perkataan yang baik dan menenangkan hatinya.

Dan saya selalu mengatakan pada diri sendiri, bahwa ia adalah individu yang unik. Bahwa anak-anakpun punya pemikiran sendiri seperti orang dewasa, dengan kapasitas mereka tentunya.

Saya menulis ini, bukan untuk mendapatkan penghakiman ataupun pengakuan apapun itulah. Saya hanya sharing, dan mungkin ini bisa menjadi pengingat bagi siapapun baik yang masih berstatus anak ataupun orang tua. Bahwa orang tua tak selamanya benar dan anak-anak tak selamanya salah. Bahkan seorang anak diutus oleh Tuhan salah satunya sebagai pengingat orang tuanya agar tetap berada di jalan yang benar.

Menjadi orang tua itu salah satunya adalah belajar menjadi orang yang lebih baik, karena ada seorang anak yang mencontoh segala perilakumu baik maupun buruk. Karena anak adalah cerminan orang tuanya.

Semoga kita semua bisa bersabar dan selalu introspeksi diri agar bisa menjadi lebih baik lagi, baik sebagai anak maupun orang tua.

~tu2twidhi, 14012016~
Ps. Tolong jika menemukan yg share artikel diatas di fb kalian, tak usah menghakimi dia. She had her point. She also share it to remind us.

10 comments

  1. ndu.t.yke · January 14

    Aku salut sama si ibu yg sudah mau berbagi cerita spt ini. It’s not easy. And it’s indeed a reminder for all of us. Parents, big brothers, big sisters, nannies, caretakers, aunts-uncles, grannies, etc…..

    • tu2t widhi · January 16

      Bener.. tapi kadang gk sukanya itu reaksi org2 yg ngejudge si ibu a b c lah.. padahal niat dia itu baik. Jangan sampai apa yg terjadi ama dia kejadian ke org lain..

      Bersabar dan bersyukur.. huft semangat😀

      • ndu.t.yke · January 16

        Yah mungkin ibu2 yg mengkritisi itu, level sabarnya sama anak sudah seluas samudra. Gak pernah bentak anak meski keceplosan. #mesem Aku aja sama Suami kadang keceplosan klo lg gemes ya. Sama suami loh yg notabene adalah orang dewasa. Moga2 bs dikasih sabar yg cukup buat nanti membesarkan anakku. Aamiin.

  2. fenty6285 · January 14

    bersabar dan bersyukur :’)

  3. Vicky Laurentina · January 14

    Aku kadang-kadang gusar pada anakku. Karena dia gumoh. Karena dia menumpahkan makanan yang sudah dia telan. Karena dia tidak mau menghabiskan makanannya. Dan semacamnya.

    Sangat tidak mudah untuk tidak membantingnya ke kasur dan membiarkannya guling-guling sendirian supaya dia tidak terus-menerus bikin aku gila. Kadang-kadang suamiku nongol dan bilang, “Vicky, stop!” lalu menggendongnya dan membawa anakku pergi dari aku, membuatku merasa terkucilkan seolah-olah aku bukan ibu yang baik.

    Jadi aku bilang pada diriku sendiri, gigit lidahmu. Berlarilah. Mandilah. Makanlah es krim dan cokelat yang banyak.

    Ketika aku sudah merasa baikan, aku menghampiri anakku dan menyadari alangkah berbahayanya aku bagi anakku ketika aku sedang marah. Bahkan meskipun penyebab marahku adalah karena aku mencintai anakku.

    Jangan pernah bentak anak kita. Bentakan hanya membuatnya jadi bodoh.

    • tu2t widhi · January 16

      Masing2 ibu punya kegusaran masing2 kok vic.. aq sebel ama anakku biasanya sih perkara dia gak bisa diem sama sekali. Ya gk masalah benernya. Tapi kalo pas aq lagi kerja, itu bikin spanneng.

      Kalo marah kita harus bener2 ambil timeout biar bisa reda dan tidak menyakiti anak kita. Semangat ya bu! Kita semua berjuang agar bisa jadi ibu yg baik..

  4. Nadia Khaerunnisa · January 15

    Yg penting mbak, bersyukur kita masih ditegur Alloh dengan rasa bersalah🙂 semoga semakin sabaaarrrr…

    • tu2t widhi · January 16

      Amien.. amien ya robbal alamien.. we all through it, ya.. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s