menjadi vegetarian -part 2-

Tidak makan telur, ikan dan ayam adalah siksaan!

Seumur hidupku, yang namanya seafood adalah makan favorit sepanjang masa. Kecuali ikan lele karena sewaktu makan ikan lele, bibir dan lidah seketika gatal walau sudah minum obat. Seafood adalah makanan paling nikmat sepanjang masa. Apalagi kalau ke Kalimantan. Aduh! Seafoodnya juara! Dimasak tanpa bumbupun, citarasanya keluar. Mak Nyus!

Lalu ayam. Ayam bumbu rujak, ayam goreng, ayam kecap dan honey glazed chicken adalah kenikmatan setelah ayam. Lalu telur. Saya paling suka makan telur dengan metode jepang: tamago kake gohan. Telur diatas nasi. Namun telurnya ini telur mentah lho, man😄 telur diatas nasi yang baru matang dengan daun bawang dan sedikit kecap asin atau garam. NIKMAT BANGET!

Kemudian dalam sekejap tidak boleh makan makanan tersebut, karena diriku tidak bisa minum obat, rasanya seperti sakaw. Saya yang saat itu murni pemakan daging harus beralih menjadi pemakan tumbuh-tumbuhan.

Iya, rasanya sakaw. Sakit badan ini. Saya menjadi mudah lapar, lemas, mudah lelah. Dan yang membuat saya shock dari efek akumulasi obat yang mengakibatkan melemahnya fungsi ginjal adalah saya tidak bisa puasa. Bagi seorang muslim, puasa di bulan Ramadhan merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Namun saya tidak bisa, karena tiap jam saya harus rutin minum air putih minimal 1 gelas (200ml).

Pernah saya abaikan karena saya ingin puasa. Namun yang terjadi adalah pinggang sakit gak karuan dan berujung pada terbaring di kasur selama 1-3 hari. Itu adalah siksaan, siksaan dunia yang paling kejam dalam hidup saya.

Siksaan terkejam lainnya adalah tanpa sengaja mendengar omongan teman seperti ini: “waduh, tutut ikut ya? Jangan deh. Dia kan nggak bisa makan ayam telur dan ikan. Kalau dia hang out ama kita, kita dong yang susah nyarikan dia makan apaan. Maunya seneng-seneng, malah repot.”

Akhirnya, saya sering menolak ajakan teman untuk ngumpul, bahkan saya duluan menarik diri daripada dengan omongan yang nggak enak tentang saya. Saya jadi gampang tersinggung. Hingga akhirnya saya menghilang dari peredaran. Saya menghilang dari komunitas, dari teman-teman saya untuk menenangkan diri sambil berusaha sehat.

Berdamai dengan keadaan.

Hal ini tidak mudah. Berdamai dengan keadaan itu tidak mudah. Saya tidak terima kenapa saya tidak bisa makan apa yang orang-orang bisa makan. Saya tidak terima kenapa saya memiliki badan dengan kondisi organ dalam yang lemah; Ginjal lemah, jantung lemah, asma, liver lemah. Saya benci kelemahan fisik saya. Jangankan untuk lari, jogging 10 m aja sudah bikin kepala serasa dipentung oleh godam.

Saya bahkan menyangkal keadaan fisik lemah saya dengan “beraksi” seakan-akan saya kuat. Saya angkat-angkat meja sendiri, angkat beberapa CPU dari lantai 1 ke lantai semi basement berkali-kali, lari-lari kecil ketika ada event. Ketika saya sudah tidak kuat, saya mencari tempat sepi dan meremas dada kiri saya sambil tersengal-sengal dan keringat dingin mengucur. “saya tidak lemah. Saya kuat. Saya bisa!” itu yang berulang kali saya ucapkan.

Saya tidak ingin menunjukkan kepada dunia bahwa saya memiliki kelemahan fisik yang begitu banyak. Hingga akhirnya saya lelah dan bertanya kepada diri sendiri: sampai kapan? Sampai kapan kamu menyangkal keadaanmu?

Perlahan saya mulai menerima apa yang terjadi dengan tubuh saya. “Saya lemah, terus kenapa? Lakukan sebisamu. Jangan dipaksa. Memaksa tubuhmu melakukan apa yang kamu tak bisa lakukan hanya memperparah keadaan.” Ya, memang begitu keadaannya. Ibarat putaran mesin 5000rpm, tapi dipaksa ditingkatkan menjadi 7000rpm. Ketahanannya menjadi berkurang drastis tentunya. Saya telah memperpendek umur saya dengan cepat.

Sejalan dengan hal itu, saya mulai menikmati makan sayur. Dan yang utama adalah, saya tidak mau ambil pusing dengan apa yang orang lain katakan.

“haduh kamu kok makan sayur aja. Saingan sama kambing dong, makan rumput.”
“kasian ya hidupmu. Semua serba terbatas. Bahkan makan saja tidak bebas.”
“coba alternative. Obat herbal kek. Merek A ini lho manjur bla bla bla” ujung-ujungnya promosi MLM.

Jujur untuk pengobatan alternative, saya bahkan pernah makan daging buaya, walau tak sengaja juga sih. Pernah mau makan daging ular tapi saya ragu. Dan ketika ragu lebih baik tidak usah, jadi ya sudah.

Ketika beberapa orang mengatakan hal tersebut, saya hanya tersenyum. Walau dalam hati berkata “ah, kamu tidak tahu apa yang saya rasakan jika pantangan tersebut saya langgar.”

Seorang teman bahkan menyarankan pergi ke dokter yang bisa menghentikan alergi tersebut. “aku tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya kamu tidak bisa makan seafood. Yang penting sekarang adalah kamu bisa merdeka. Merdeka untuk makan apapun.” Namun maaf ya, teman. Saya tidak pergi ke dokter lagi karena saya sudah menerima apa yang terjadi denganku.

Lagipula tidak makan ayam, ikan dan telur ternyata tidak seburuk itu. Saya masih bisa hidup, alhamduilillah sehat, dan ternyata duniaku menjadi lebih baik.

-bersambung ke part 3-

4 comments

  1. denaldd · March 6

    Semangat ya Tut. Semoga kesehatanmu semakin membaik. Mungkin selain menghindari makanan yang dapat mengganggu kesehatan badan, menghindari omongan yang dapat mengganggu kesehatan jiwa juga diperlukan🙂
    Aku sudah hampir 8 tahunan ini makan selalu berbasis sayuran, tidak makan unggas dan daging tapi sesekali masih makan seafood. Bukan alasan kesehatan tapi karena pilihan hidup. Rasanya lebih segar ke badan. Dan aku juga ada beberapa alergi (parah) sampai tahap tes alergi 2 kali karena pernah pingsan pas alergi kambuh. Alergi memang ga bisa disembuhkan, tapi bisa dihindari. Jadi sejak kecil sampai sekarang aku tetap hidup berdampingan dengan alergi🙂 semangat ya Tut!

    • tu2t widhi · March 7

      Saya sih terkadang makan daging.. ini masih step by step untuk stop semua.. bukan membuat menyusui jadi alasan. Tapi kalo asupan kurang badan yg ambruk. Jadi sesekali makan daging merah buat boost up stamina..

      Memang makan makanan yg berbasis sayur itu membuat badan lebih segar. Berarti kita tak jaih beda ya, mbak. Hidup berdampingan dengan alergi

  2. dani · March 7

    Semangat Chan! Semoga semakin sehat yaaa. Aku yamau nyoba makan sayur-mayur euy. Kurang rasanya dan badan gak enak.
    Omongan orang kadang emang suka gak sensitif dan gak ngelihat kondisi orang yang diomongin ya..

  3. tu2t widhi · March 7

    Perlahan lahan, sayurnya diperbanyak.. lama2 jadi terbiasa..

    Ya omongan orang emang gitu sih ya, dan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s