Sejak kapan kalian menulis?

Jangan bilang sejak diajari menulis oleh bapak/ibu guru😄 maksud saya menulis disini adalah, menuangkan sebuah cerita maupun pengalaman sehari-hari dalam sebuah tulisan.

Saya pribadi mulai menulis sejak SD di buku harian. Dengan kalimat pembuka “dear diary” yang terkenal itu. Entah bagaimana, sedari kecil saya suka banget pelajaran mengarang. Jika teman-teman lainnya kesulitan ketika ujian mengarang, saya sih langsung tulis saja. Habis deh 2 halaman kertas folio bergaris😛

Kebiasaan menulis di buku diary itu berlanjut hingga sekarang. Walaupun sekarang tulisannya lebih singkat padat dan jelas. Tidak terlalu panjang, berbunga-bunga dan bertele-tele. Misalnya nih ya:

-Jum’at, 4 Maret 2016-
Pagi ajak adik jalan-jalan. Eh tumben amat jam 9 udah tidur. Sampai jam 12 pula. Kerjaan kelar jam 2 siang. Mandi, mau ajak adek jalan-jalan seputar kompleks. Lha kok hujan T_T untungnya jam st 5 udah reda. Jalan-jalan deh. Liat genangan air, mainlah ia -_-; balik sebelum maghrib, makan. Lha kok telurnya gak dimakan. Malah makan sayurnya aja. Yasudahlah, yg penting mau makan. Jam 8 tidur, dan akhirnya bisa nulis postingan blog, walaupun scheduled post😛

Kira-kira begitu sih tulisanku di diary sejak memutuskan kerja dirumah. Ya maklum, drama-nya nggak banyak. Palingan seputar anak, anak, dan anak😛 dibandingkan dulu, ketika belum menikah. Tulisan pasti galau perkara pacar lah, teman lah dan lain sebagainya.

Sebenarnya, targetku ketika memutuskan menjadi IRT adalah kembali bersekolah. Bukan, bukan S2 sih😛 tapi sekolah menulis. Rasanya saya ingin belajar menulis yang lebih baik. Penggunaan kata dan kalimat, topik yang diambil dan bagaimana cara membahasnya sehingga menjadi lebih menarik dan menyenangkan untuk dibaca.

Kebetulan dosen pembimbingku waktu kuliah memiliki sekolah menulis. Dan kelasnya itu macam-macam. Ada menulis fiksi dan cerpen, menulis opini supaya dimuat di surat kabar, menulis review buku dan masih banyak lagi. Tapi yang menjadi beban pikiranku adalah: kalau saya ikut kelas tersebut, bagaimana nasib anakku?

“Titipin aja lah, chan. Susah amat.”

Ya susah lah. Secara anakku tidak mau ditinggal. Konon katanya, ketika anak masih menyusui, pasti ngikutin ibunya terus. Seiring bertambahnya usia, dan ia menyapih sendiri, kemandirian dalam dirinya akan muncul. Hmm, saya akan menunggu saat-saat tersebut. Toh anaknya baru  19 bulan. Tak usah terburu-buru menyapih lah ya.

Kembali ke menulis. “Memangnya ada target menulis, chan?” nggak sih. Saya sangat tahu diri jika saya walaupun imajinatif, namun tidak bisa menuangkannya dalam kata-kata. Maksudnya jika saya membuat cerita fiksi itu gak pinter. Maklum ya, saya nggak suka baca novel. Sukanya baca berita, artikel-artikel, jurnal😛 otomatis saya tidak bisa menuangkan sebuah cerita fiksi dalam kepala saya menjadi seru. Namun saya bisa menceritakan kembali pengalaman tentang apa yang saya rasa dan saya lihat. Haha, formal banget. Maklum, anak kuliahan jurnalistik. Tapi larinya malah ke design & crafting😄

Jadi mungkin sekarang, saya harus puas dengan gaya Bahasa dan penulisan saat ini. Walaupun saya juga tetap belajar tentang bagaimana menuturkan informasi dengan baik dan tidak menyakiti perasaan siapapun yang membaca blog ini.

Jujur, sebenarnya banyak sekali yang mau saya tuang di blog ini. Mulai dari parenting, opini mengenai isu-isu hangat (LGBT misalnya), tapi mungkin karena saya punya latar belakang jurnalistik, rasanya jika sekedar menulis tanpa menelisik lebih dalam itu tidak etis. Karena saya bukan ahli. Saya hanya pengamat amatir.

Ah! Kenapa jadi berat gini sih bahasannya😛 ya namanya juga menuangkan isi pikiran ya.

Btw tanggal 28 Februari kemarin, saya mendapatkan notifikasi dari WordPress, bahwa saya telah bersama WP selama 8 tahun! Wow! 8 tahun. Lama ya. Semoga bisa lebih konsisten lagi deh😀
image

Oh ya, saya sudah ada bahan tulisan buat thrilling Thursday. Jadi ditunggu kemunculan kembali cerita serem di hari kamis ya😀 *emangnya ada yang mau nunggu, chan?😄

Dan selamat Nyepi buat teman-temanku di Bali beserta para umat Hindu.

~tu2twidhi, 09032016~

4 comments

  1. rizkachika · March 9

    Kita ini kayak kebalikan ya. Kalo aku dulu gak gitu tak indahkan hobi menulis. Skrg malah jadi profesi. Keep writing, Mommy! Sapa tau nanti bisa bikin proyek bareng kita.. ❤

  2. denaldd · March 9

    Waaahhh kereenn sudah 8 tahun dengan WP. Semoga tetep langgeng ya.
    Pengalaman nulisku sama denganmu dimulainya sejak SD dengan mulai nulis Diari. Pernah ngirimin satu cerita di Kuncup dan dimuat. Yiaayy senang. Pas waktu kerja di Jakarta ikut kelas penulisan Asma Nadia dan Ayu Utami di Salihara. Dan sama kantor dikirim 2 kali ikut training penulisan ilmiah (soalnya kerjaanku dulu kan di marketing riset jadi sering nulis laporan). Sewaktu di Jakarta juga beberapa kali ikutan nulis cerita fiksi dan dibukukan melalui penerbit independen. Ikut nulis cerita anak juga dan dibukukan. Entah kenapa dulu aktif banget nulis fiksi, apalagi masa2 patah hati, beuuhh kalimatnya kalau sekarang kubaca2 sampai kadang ga percaya kalo itu aku yg bikin haha. Kalo sekarang belum bisa balik lagi nulis fiksi, feelnya ga dapat. Akhirnya nulis2 non fiksi aja diblog dan coba2 lagi kirim2 tulisan ke media.

    • tu2t widhi · March 13

      Wiii.. pengalamannya mbak banyak banget. Aq cuman pengalaman di media nulis2 artikel doang. Makanya nulis fiksi itu benar2 bikin dahi berkerut hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s