tentang ibu dan anak

Saya jadi berfikir, jika perjuangan seorang ibu segitu hebatnya, bagaimana mungkin ia tega menelantarkan hidup si anak.

Sudah seminggu anak saya sakit. Kedua gigi taringnya tumbuh tepat ketika kondisi badannya sedang jatuh karena radang tenggorokan. Di hari pertama panasnya menyentuh 40.2 derajat celcius. Di hari kedua dan ketiga masih di kisaran 39 derajat celcius. Bingung, stress, semua perasaan campur aduk menjadi satu. Berat badannya yang sudah susah payah naik hingga 9 kg langsung turun ke angka 7.8 kg. Entah berapa berat badannya sekarang karena lebih dari 4 hari ia tidak mau makan. Namun saya masih bersyukur bahwa ia masih menyusui, sehingga pasokan tenaganya hanya dari ASI.

Jpeg

Jpeg

Susah payah membujuk anakku untuk minum obat, sementara obatnya disembur kemana-mana. Belum lagi tangisan yang ia lontarkan dengan wajah yang seakan berkata “bunda, hentikan bunda. Sekar tidak mau minum obat. Sudah cukup bunda,” namun saya harus tetap melakukannya, demi ‘membunuh’ penyakit yang ada didalam tubuhnya. Hatiku menangis setiap ia menangis. Hatiku teriris setiap ia merintih kesakitan.

Sehingga saya berfikir, bagaimana mungkin seorang ibu tega menelantarkan anaknya setelah sekian puluh tahun bersama.

Saya tidak habis pikir karena selama saya menjadi ibu, hatiku tiba-tiba 1000% untuk anakku. Cinta dan segalanya untuk dia. Mulai dari momen ketika diriku sadar bahwa ada sebuah kehidupan dalam tubuhku, hingga saat-saat dimana saya mendengarkan tangisan pertamanya. Sungguh, itu adalah hal yang luar biasa yang terjadi seumur hidupku.

Walaupun memang, saya menginginkan anak laki-laki karena satu dan dua hal sebab, namun saya tidak kecewa ketika mengetahui bahwa anak yang lahir dari rahimku adalah perempuan. Pun ia merupakan anak yang kusayang dari seukuran benih, mengapa harus kecewa?

Kecewa…
Apakah karena si ibu kecewa dengan si anak hingga ia menelantarkan hidupnya dan tidak mau tahu apa yang terjadi padanya? Pun ia berdalih bahwa ia tak peduli dengan anak laki-laki kesayangannya. Yang penting ia hidup tidak memberatkan anak-anaknya. Namun ucapan dan tindakannya benar-benar 180 derajat berbeda.

Apa yang kurang dari si anak ini. Seluruh hidupnya ia curahkan agar tidak mengecewakan orang tuanya, menjaga nama baik kedua orang tuanya, bahkan tak henti-henti ia menorehkan prestasi dengan harapan bahwa si orang tua tersebut bangga kepadanya. Apa yang begitu mengecewakan dari si anak?

Gender.
Ia terlahir sebagai seorang perempuan, di lingkungan yang mengagung-agungkan anak laki-laki. Bahwa seorang anak laki-laki adalah penopang keluarga, dan yang dapat mengangkat harkat martabat keluarga. Anak perempuan dianggap tidak memiliki harga.

Pernahkah kalian mendengar diskriminasi gender seperti ini di sekitar kalian? Banyak, hal ini banyak terjadi. Cukup banyak suku-suku di Indonesia yang menganut paham ini. Sebuah paham dimana anak laki-laki adalah dewa, dan anak perempuan adalah komoditi.

Padahal ini sudah tahun berapa.. 2016 lho! Pun masih banyak yang punya pemikiran seperti ini. Beberapa korbannya biasanya terjadi pada anak-anak perempuan yang dinikahkan orang tuanya untuk menebus hutang, atau dijadikan entah istri keberapa demi meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya karena si anak perempuan menikah dengan orang terpandang di daerahnya.

Suatu hari saya pernah mendengar ucapan ibu mertua saya ketika anak-anaknya sedang berselisih.

“buat apa sih memusuhi anak. Lha wong kamu itu kukandung, kubesarkan dengan susah payah dan cinta. Trus besarnya aku musuhin demi membela anakku yang lain? Sudahlah. Aku tidak peduli anakku mau musuhin aku atau sebaliknya. Yang jelas rasa sayangku itu pasti, dan tidak ada satupun yang kubenci. Semua sama.”

Seandainya, seluruh ibu didunia mempunyai pemikiran seperti ibuk, mungkin dunia ini akan penuh dengan kedamaian dan cinta kasih. Dimana seorang anak memiliki tempat untuk pulang, berkeluh kesah dan bermanja-manja.

“tidak mungkin, chan. tidak ada seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya.” Percayalah, bahwa banyak orang tua yang tega menelantarkan anaknya. banyak orang tua yang tega membunuh impian dan masa depan anaknya demi pemenuhan ego semata.

Bersyukurlah kalian yang memiliki seorang ibu yang tidak membeda-bedakan anaknya karena gender. Bersyukurlah kalian yang memiliki tempat untuk pulang. Karena sebagian orang diluar sana, entah lelaki ataupun perempuan, sedang menangis rindu ingin pulang, tapi bingung harus pulang kemana.

~tu2twidhi,14032016~    

9 comments

  1. aik · March 13

    *peluk ecchan dulu
    Ada kok chan, ibu yang gak peduli sama anaknya. Tapi tetep, ndak semua ibu begitu🙂 Ada kok yang dalihnya begitu (maksudnya nggak begitu peduli anaknya) supaya katanya anaknya lebih kuat, lebih mandiri, dsb, dst.
    Tapi kalo soal benci sama anak, entah ya, barangkali terjadi sesuatu di kehidupan atau psikologis si ibu dalam proses sebelum anak itu lahir…..beberapa kasus terjadi sama ibu2 yang hamilnya misalnya karena diperkosa, atau mungkin dinikahkan paksa,atau semacam itu.
    Ibu yg kayak gitu ada, pasti ada, tapi ibu2 yang menyayangi anaknya jelas ada. Yang terlalu sayang sampe kelewat batas pun ada.
    Ecchan semangat! Sekar cepet sembuh yaaa :* Semoga sehat selalu sekeluarga🙂

    • tu2t widhi · March 13

      Memang ada ik.. yg gk peduli banyak.. yg suwayang yo huwakeh..
      *hugs aik*

  2. ndu.t.yke · March 13

    chaaaan aku wes lahiraaaan🙂 *komen oot*

    • tu2t widhi · March 13

      Huwaaaa… lanang po wedoookk? Kapan?
      *nerusno oot*

      • ndu.t.yke · March 13

        lanang, chan. eh km ada whatsapp nggak? masih punya nomerku yg 1300?

        • tu2t widhi · March 13

          Ada wassap mem.. hapeku yg ad wassapnya memtyk ilang.. mesej di fb aj gpp

  3. dani · March 14

    Semangat Chaaaan! Kebayang beratnya jadi ibu Chan. Hiks. Semangat terus ya Chan!

  4. nyonyasepatu · March 14

    Iya Chaaaa semangat, jadi ibu emang gak mudah ya . Banyak perjuangan. Semangat

  5. Nadia Khaerunnisa · March 16

    Saya jg paling bingung kalo anak sakit nih, susyeee bener minum obatnya. Tambah gak tegaaa😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s