Memasuki fase “trouble two”

​Beberapa bulan terakhir, diriku mulai kesulitan menghadapi anak kecil ini. Mulai dari energi 1000%, naik2 meja, kursi, lompat2 diatas kasur, naik ke strolernya, berdiri di atas kaleng biskuit, berdiri diatas sepedanya hingga manjat badan emaknya.

Tak hanya itu, perangainya juga mulai berubah. Anak yang semula lucu dan bisa diatur, kini menjadi balita yang… emoh dibilangin xD kalo dilarang atau dibilangin, dia langsung marah dan mukul muka emaknya. Yap, mukul. Digodain ama om tantenya trus bete, ujung2nya pasti mukul… emaknya.


Duh ilah nak! Kamu marahnya ama sapa, mukulnya ke sapa. Sebel? Jelas. Karena chan nggak pernah ngajarin dia untuk mukul. Lama2 chan inget-inget. Yah elah diriku lupa kalo si ayah sering bilang “kalo marah, nggak suka atau sebal, pukul saja dEk!” dan itu selalu diucapkan ketika anaknya jatuh atau kejedot atau apalah yang bikin dia nangis.

Akhirnya sekarang anaknya tiap ngamuk ato sebel ato gk dibolehin sesuatu, ujung2nya pasti mukul. Hah! Dulu awalnya udh kuingetin jangan ngomong begitu, ee malah dterusin. Wassalam deh. Sekarang ayahnya nyesel ngomong gitu, karena ia jadi saksi anaknya marah dan nyakar wajah emboknya. Huhu!


Lha kok ya ternyata, chan gk sadar kalo anak kecil ini sudah mau umur 2 tahun. Jangan2 ini anak sudah memasuki fase “trouble two”? Setelah baca-baca di baby center, yak! Ternyata ini anak sudah memasuki fase trouble two, sodara2!

Bagaimana menghadapi anak yang memasuki fase trouble two dengan segala bentuk tantrumnya? Kunci utamanya adalah nyetok pil “sabar”. Walaupun kenyataannya tak seindah teorinya. Masih tetap marah, kadang ikutan ngambek *haha emboknya melok ngambek*, malah kalau sudah keterlaluan bisa aq tinggal anaknya.

Kalau sdah sEperti itu, mau nggak mau chan butuh time out buat nenangin diri sendiri.karena marah-marah kepada anak uMur segini itu, percuma. Pesannya tidak masuk, malah bikin dia menjadi-jadi.

Pernah suatu hari chan capek banget, eh anaknya teriak2 minta sesuatu. Lalu kutanggapin dengan nada pelan dan sabar, saking malesnya ngamuk2 karena tau itu percuma. Lha kok ternyata, dia terdiam dAn ngomong dengan nada lembut. Eaaa! Arek iki njaluk di alusi dadakno xD

Sekarang chan woles aja nanggepin anak yg lagi tantrum gajeb entah karena mood swing, keinginan yg nggak keturutan, maupun chan yang salah mengartikan maksud perkataannya. Woles bray! Selama masih ada camilan dan kopi, saya masih tetap waras. Padahal sejak Ramadhan dimulai, nggak minum kopi sama sekali xD

Yang susah itu bilang ke bapaknya kalo anaknya merajuk pake nangis itu jangan melulu diturutin (._.) karena, walaupun anaknya tau kalo tangisan tak berlaku bagi emaknya, tapi ampuh buat bapaknya. Trus ujung2nya emaknya lah yg diserahin anak yg lagi tantrum (.___.#)

Yah, semoga fase ini bisa terlewati dengan baik. Amien2 ya Robbal alamien.

~tu2twidhi, 5 July 2016~


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s