Jadi ibu itu, berat!

​Banyaknya pemberitaan berkeliaran tentang ibu menginjak-injak anaknya, sampai dengan memutilasi anaknya yg masih berusia 1tahun itu bikin miris ya.

Tidak semua anak-anak manis seperti di iklan susu atau iklan sabun mandi

“Itu ibu gimana sih? Sehat?”

“Dimana sih akal sehatnya?”

“Kok tega sih begitu ama anak sendiri?”

“Itu agamanya kurang makanya tega”

Dan beribu komen dan hujatan kepada ibu tersebut tentang perbuatannya.

Kalau mau melihat dengan hati tenang dan pikiran dingin, seharusnya kita lihat “KENAPA” si ibu bisa melakukan hal tersebut. Hey man, tak ada api jika tak ada asap. Semua itu pasti ada sebabnya.
Sayangnya masyarakat kita ini kebanyakan judgmental, terutama di sosmed. Jadi pemberitaannya dibagikan dan ditambahi komen yang kurang enak.

Hey! Jadi ibu itu berat lho, terutama dalam mengatur emosinya. Bayangkan saja, dalam satu hari ia harus:

  1. Bangun lebih pagi, sholat/berdoa lalu menyiapkan sarapan buat suami dan anaknya.
  2. Mengantar anak ke sekolah, menungguinya sampai selesai.
  3. Sementara itu pekerjaan rumah menumpuk mulai dari menyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, masak makan siang-malam. Belum lagi kalo anak minta dibelikan camilan. Dan bagi yang punya anak balita, yang namanya rumah pasti berantakan karena mainan berserakan, makanan yang dilempar-lempar, ompol anak dsb.
  4. Belum lagi kalo si anak minta ditemani: main, cerita, tidur, sehingga si ibu menghentikan aktivitasnya untuk menemani si kecil.
  5. Anak tidur, ibu lanjut mengerjakan pekerjaannya. 
  6. Tak terasa sudah sore. Waktunya memandikan anak, dengan segala dramanya: nggak mau mandi, kejar2an buat bukain baju, mandi pake nangis, mandi gk mau kelar-kelar sampai kulit keriput. begitu kelar, anaknya nggak mau pake baju. Yassalam dah ya, bisa sejam sendiri buat ngebuka baju ampe pake baju lagi.
  7. Anak sudah ganteng-cantik, lha kok mainan pasir/bedak/makanan apapun yg bikin dirinya kotor lagi. Akhirnya dimandiin lagi, dan drama lagi Orz Orz
  8. Malam tiba, tenaga emboknya udah 10%, anaknya masih 80%, dan kerjaan rumah belum kelar T︵T
  9. Anak akhirnya tidur, si ibu belum tidur karena berberes rumah yang berantakan.

Ini belum termasuk drama anak nggak mau makan (gtm/gerakan tutup mulut), anak tantrum karena sebab yang tidak diketahui, sakit dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan capeknya?

Abis ada gempa?

Abis mandi, makan es krim, lha kok ditoletin semuka sih, dek? ˚D˚

Mainan bedaaaak ^ω^

Dan bisa dibayangkan capeknya jika ibu tersebut juga bekerja? Karena ibu pekerja selain mengerjakan pekerjaan domestik, ia juga harus meluangkan waktu buat anaknya selelah apapun itu.

Dengan segudang kegiatan tanpa henti tersebut, sudah sepantasnya seorang ibu membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Karena motherhood itu kejam, kawan! Ibu satu bisa menyakiti ibu lainnya dengan cara: membandingkan anaknya dengan anak org lain.

“Anaknya kecil ya. Makannya gimana?”

“Duh ibu, anaknya dikasih makan apa sih kok beratnya gak naik2?” diucapkan oleh ibu-ibu posyandu (._.)

“Anak saya sudah bisa A, B, C lho di usia 2,5th. Makanya bu, anaknya disekolahkan biar pinter”

Dan lain sebagainya..

Suami itu memiliki peran utama agar istrinya tetap “waras”. Sayangnya masih banyak suami yang tidak mau tahu pengorbanan istrinya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Masih banyak lho suami yang seperti itu. Tau istrinya kewalahan dengan rumah dan anak2nya, eh si bapak malah asyik mainan dengan ponsel pintarnya atau ngakak-ngakak ama temen2nya.

Jika si ibu dibiarkan seperti itu, lama2 kondisi kejiwaannya makin parah lho. Bisa dilihat di gambar diatas ini.

“Alhamdulillah istriku baik2 aja kok, chan. Ia bisa mengatur emosinya”

Eh hati-hati. Baby blues, depression dan psychosis itu datangnya diam-diam lho. Dan kebanyakan perempuan tidak terbuka dengan hal ini. Saya saja sempat kena baby blues.

Si ibu yg mengunggah video menginjak2 anaknya itu ternyata sedang kesal karena suaminya menuduh si istri menjual diri di “bukumuka”. Bisa dibayangkan betapa sakit hati istri dikatakan begitu oleh suaminya?  Bisa jadi si istri tidak melakukannya lalu suami mengatakan hal tersebut tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali, dan ketika ia mau membantah, malah diancam suaminya yang A B atau C lah.

“Ah, harusnya ya marah ke pasangannya dong. Jangan dilampiaskan ke anak”

Bagaimana rasanya kalau kamu dikatakan menjual diri oleh pasanganmu? Pasti marah, nggak terima dan masih banyak lagi. Terlebih kalau tidak bisa langsung membantah tuduhan tersebut dan memilih diam. Ya akhirnya seperti itu. Anak yang kena kekesalan si ibu.

Memang ada kok seorang ibu yang sadar dan tega ama anaknya, tapi juga banyak banget ibu yang menjadi “korban” perasaan hingga tidak sadar menjadi tega terhadap anaknya.

Membaca berita tentang ibu-ibu yang seperti itu, chan hanya bisa berdoa agar permasalahan si ibu bisa diselesaikan dengan baik, dan suami & lingkungannya mau bekerja sama untuk menyembuhkan kondisi psikologis si ibu.

Ia membutuhkan pertolongan bukan penghakiman.

Jadi kawan, ada baiknya kita menyenangkan teman-teman kita yang sudah menjadi ibu. Bahagiakan hatinya, bahagiakan dirinya. Ibu adalah seseorang yang mendedikasikan hidupnya demi anak-anaknya dan (berusaha untuk) tidak mengeluh dengan keadaannya.


Selamat hari Jum’at, kawan!

~tu2twidhi, 7 Oktober 2016~

12 comments

  1. Gara · October 7

    Semangat ya buat kaum ibu, hehe. Mungkin para ibu butuh kegiatan untuk pelampiasan emosi secara berkala supaya tidak menumpuk dan akhirnya membuat psikis agak terganggu. Menulis, salah satunya, hehe.
    Yang kasus ibu memutilasi anak itu juga disinyalir ada gangguan dengan psikologi sang ibu ya, ia tak sadar dan menganggap si anak sebagai sebuah boneka. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi, amin.

    • tu2t widhi · October 7

      Menulis memang bisa meringankan beban pikiran sih. Soalnya satu pendapat “terbuang” di tulisan hehe.

      Iya yg memutilasi anak itu jelas2 ada gangguan psikis, yg kemungkinan udh masuk tahap psychosis. Aq bukan psikolog ato ahli kejiwaan ya. Tapi aq kasian ama ibunya. Betapa hebad beban pikiran yang ia tanggung sehingga sampai seperti itu.

      Masyarakat kita perlu di edukasi perkara post partum depression ini deh. Biar bisa saling menolong..

      • Gara · October 7

        Iya Mbak, banyak orang mesti tahu bagaimana menghadapi post-partum depression ini (pinjam istilah ya, hehe). Minimal tahu apakah ini normal atau tidak, dan apa yang harus kita lakukan jika orang yang dapat PPD ini adalah orang terdekat kita.

        • tu2t widhi · October 7

          Itu istilah international kok hehe..
          Itu ada kok gejala2 ppd dari awal ampe akut. Kalau tindakannya ya dampingi si ibu. Bahagiakan dan bantu ringankan kerjaannya

  2. nyonyasepatu · October 7

    Berat bgt ya emang, apalagi kalau udah emosi kan kebanyakan gelap mata

    • tu2t widhi · October 7

      Makanya ada kan tuh kata2 “ibu2 itu butuh piknik” biar jauh2 dari pikiran gk bener. Belum jadi ibu aja kalo udh sumpek aja bawaannya marah2. Jadi ibu itu emosi harus bener2 dikontrol. Ucapan buruk bisa jadi kenyataan dengan segera soalnya.

  3. rosa · October 11

    Butuh kesabaran superrrrr ya mbak untuk jadi ibu penuh kasih itu…

  4. tuaffi · October 15

    tulisan seperti ini loh bikin adem.🙂 jadi ibu itu berat, gitu masih banyak aja yang banding- bandingin ibu bekerja dan bukan. sibuk pamer betapa manis anaknya, dan buat ibu yang lain iri hati.
    jadi tetap waras saat badan lelah itu nggak mudah, apalagi tidak ada dukungan dari orang terdekat.😦 harusnya suami- suami mendapat edukasi tentang ini. baru- baru ini di jepang ada kampanye yang suami melakukan kegiatan sehari- hari sambil memakai kostum hamil itu loh, boleh juga dicoba di sini. hehe
    semoga kejadian- kejadian ini tidak terulang,
    salam kenal.🙂

    • tu2t widhi · October 15

      Hi mbak..
      Makasih udah baca tulisan saya.
      Saya nulis ini gara2 sedih dan sebel. Kalo ada kesalahan dikit aja, pasti ibu yg salah. “Ibuknya gimana sih?”. Tapi kalo anaknya kalem, pinter, kebanyakan malah yg dapet pujian bapaknya. Urm, bukannya iri sih, tapi gk adil aja gitu hahaha

      Budaya patriarki ini yg membuat kebanyakan laki2 jadi semena2 ke perempuan. Jadi banyak yg gk (seberapa) peduli dengan pengorbanan si ibu. Sedih gitu. Tapi yg bikin parah sih biasanya malah ucapan sesama perempuan.

      Eh kok malah curhat.. hahaha.. salam kenal juga

  5. semangat teruss mba … ngebaca ini jadi nusuk alias ngena banget hehe. Mestia mempersiapkan segalanya nih huhu ..

  6. fenty6285 · 27 Days Ago

    So true, semangat terus ya kitaaah😀

    http://blog.fentyfahmi.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s