my blog and traffic

So put it simple, every time I checked my traffic, I always amaze and also confuse with it. Why? Because the top post of this blog is still about this post. I mean, seriously? I posted it about 4 years ago. Yet people still read about it. So, yay! XD

Screenshot_2019-11-13-16-21-47-195_com.android.chrome

screenshot_2019-11-13-16-21-26-206_com.android.chrome.png

Screenshot_2019-11-13-16-22-33-826_com.android.chrome

screenshot_2019-11-13-16-22-46-588_com.android.chrome.png

Should i make another coffee review? But sadly, now I rarely drink instant coffee nowadays. I prefer to make my own coffee from the bean, or if I buy it, i prefer latte/americano. Why? Maybe I’ll post about it later *giggles*

I’ve been blogging for more than 10 years. But I guess that I still can’t focus on certain topic, unlike some of my friends.

Why I posted this blog in English, not in Indonesian? Don’t ask because I just want to *laugh*

What should I post next, ya?

~November 15th, 2019~

tentang junk food…

Ada hutang ngejelasin tentang Junk Food nih. Gara-garanya waktu post di IG, chan sering singgung kalo sudah kebanyakan ngejunk, waktunya kembali clean eat. Gak sedikit DM yang tanya apa itu clean eating dan junk food.

Sebelum chan lanjut membahas hal ini, perlu ecchan tekankan kalo saya bukanlah praktisi kesehatan maupun ahli gizi. Kebetulan memang ecchan memiliki kondisi kesehatan yang membuatku harus mengatur pola makanan. Ecchan melakukan diet vegetarian sejak 10 tahun yang lalu, cerita lengkapnya ada disini ya > part 1 | part 2 | part 3 <

Hingga sampai pada kondisi sekarang, ecchan masih dalam pengawasan dokter ya. Jadi tulisanku ini sedikit banyak menyampaikan apa yang telah dokterku sampaikan. Jangan tanya siapa dokternya, karena yang bersangkutan nggak mau disebut identitasnya.

So without further delay, here we go.

Jadi kita tahu kan yang namanya JUNK FOOD itu Makanan Sampah. Sesampah apa sih memangnya? Sesuai dengan namanya: JUNK, jadi makanan tersebut tidak memiliki kandungan gizi yang sesuai. Kandungan gizi yang sesuai? Yups.

Badan kita butuh yang namanya: Karbohidrat, Protein, Lemak, Serat, Vitamin dan Mineral. Kalo jaman dulu sih ngomongnya 4 sehat 5 sempurna. Dan semua itu bisa kita dapatkan dari apa yang kita makan sehari-hari.

Karbohidrat bisa kita dapatkan dari biji-bijian (antara lain beras), jagung, umbi-umbian (ubi jalar dan ubi pohon) dan masih banyak yang lainnya.

Protein, jelas ada 2 jenis ya. Protein Nabati (yang paling gampang: tahu, tempe, kacang-kacangan) dan Hewani (daging-dagingan, telur, ikan, unggas).

Lemak bisa kita dapatkan dari minyak nabati seperti olive oil, buah tinggi lemak (Alpukat). Dan lemak dari tumbuhan itu lemak bagus lho.

Vitamin dan Mineral bisa kita dapatkan dari buah dan sayur.

1

Balik lagi ke yang namanya JUNK, jadi JUNK FOOD itu makanan yang tidak memiliki kandungan gizi yang sesuai. Entah itu too much fat maupun over processed food.

Yang kita tahu: Burger, Pizza, Fried Chicken dan gerai-gerai makanan cepat saji itu termasuk JUNK FOOD.

Ya, itu gembar gembor luar biasa yang kita dapatkan selama ini, bukan? Tapi ternyata, most of Indonesian Food, alias kebanyakan dari masakan Indonesia merupakan JUNK FOOD. Bahkan yang kita masak pun!

Kaget gak sih loe?

Ya kalo kamu belajar mengenai gizi, masakan dan memiliki pola hidup sehat, chan yakin kamu nggak bakalan kaget dengan hal ini. Tapi tak sedikit dari kita kan gak peduli tentang itu. Yang penting sayur, berarti sehat. Yang penting enak, makan saja lah!

But, you are what you eat. Kalau yang kamu masukkan ke badanmu itu bukan makanan yang bagus, bakalan kelihatan di badanmu juga. Ibaratnya kalo kamu investasikan badanmu dengan asal, hasilnya badanmu juga asal-asalan banget.

Why Indonesian Food is (mostly) a junkfood?

Kenapa kebanyakan masakan Indonesia itu termasuk junkfood?

Yang pertama adalah kandungan gizinya tidak imbang. Entah itu terlalu banyak karbohidrat atau terlalu banyak minyak, kurang serat dan lain sebagainya.

Hal ini disebabkan oleh OVER PROCESSED alias TERLALU LAMA DIMASAK alias WAKTU MEMASAKNYA TERLALU LAMA.

Masakan yang over processed ini mengakibatkan apaan sih?

  1. Hilangnya nutrisi.
  2. Sumber kalori menjadi sangat tinggi.

Okelah ya kalau kita masak rendang atau opor gitu, kalo nggak lama kan gak merasuk bumbunya. Mana sedaaaap. Ya gak?

Protein hewani sendiri kalau dimasak dan sudah matang, mau diolah lagi seperti apapun benernya nggak masalah kok. Kandungannya nggak berubah. Tetap bagus. Yang penting jangan diangetin lagi. Itu bakalan merusak kandungan yang sebelumnya terkunci dengan baik dan menambah kalori.

Yang menjadi masalah adalah penggunaan si santan. Tau sendiri kan kalau santan itu dimasak lama, lama-lama jadi minyak? Nah minyak itu yang bikin nggak sehat ke badan.

Jangan salah. Saya pecinta masakan bersantan kok. Itu emang HUWENNAAAK BANGET!! semakin kental santannya, semakin YAHUD. But I know it’s not good for my body. Kenapa aku harus memasukkan sesuatu yang nggak bagus ke dalam tubuhku? Udah tau itu nggak bagus, masih aja diterusin.

4

“lalu gimana dong chan?”

ya pilihannya 2, tidak usah menggunakan santan sama sekali atau ganti santan dengan krim/krimer.

“PECEL chan! Pecel, gado-gado, rujak itu kan sayur tuh. Sehat itu”

Ya, benar. Sayur memang menyehatkan. Tapi sayurnya dimasak ampe layu banget gak nih? Kalo sampe layu ya sama ajah. Itu namanya over processed. Emang kalian akan mendapatkan yang namanya serat, tapi kandungan vitamin dan mineralnya udah rusak. Sayang banget kan.

Lalu apa lagi yang bahaya dari pecel, rujak dan gado-gado? Bumbu kacangnya. Emang sih kacang-kacangan bagus. Tapi segala yang berlebihan tetaplah nggak baik buat tubuh.

Oke sekarang kita masuk ke perkara sayur.

Tau gak sih kalo sayur tuh paling tricky bin ribet pengolahannya. Kalau ingin dapat nutrisinya, lebih baik dimakan mentah. Tapi sayuran di Indonesia itu emang kualitasnya gak bagus kalau mau dimakan mentah. Karena sayuran-sayuran kita kan banyak menggunakan pestisida. Jadi proses pencuciannya kudu benar, begitupula pengolahannya. Cukup dikukus setengah matang saja. Jangan kelamaan.

Lalu semua masakan yang deep fried, alias digoreng sampe tenggelam dalam minyak, itu tidak baik untuk tubuh. Karena menambah kandungan lemak. Dan itu kan sifatnya panas. Jadi kalo ada masalah ama tenggorokan dan kamu tetep makan gorengan, ya nggak bakalan selese-selese itu sakit tenggorokan.

Satu lagi, makanan yang dipanaskan berulang-ulang.

Tahukah kalian jika nasi yang habis dimasak lalu dimasak lagi menjadi nasi goreng, itu membuat kalorinya bertambah 2-3x lipat? Yang awalnya nasi putih itu hanya 130 kcal per 100 gramnya lalu menjadi 260-400 kcal. Sedangkan kita makan biasanya sekitar 150-200 gram nasi sekali makan. Sudah kalorinya tinggi, kaya akan lemak jenuh pula.. ahem..

2

Jadi intinya, yang disebut dengan junk food adalah semua makanan yang nilai gizi vs kalorinya itu lebih banyak kalorinya. Simply put like this:

Kalori > gizi.

Kalian tau burger yang fresh grill itu? Okelah ambil contoh yang gampang ya, Big Mac nya McD. Karena porsinya besar dan memiliki sayur juga didalamnya, dan burger dengan isian sayur lengkap di Indonesia itu jarang banget kutemukan. Kira-kira kalian tahu berapa kandungan gizinya?

Dalam satu Big Mac itu kan ada roti (karbohidrat), patty daging (protein & lemak), sayuran segar (vitamin & mineral), keju (lemak).

nutfacts bigmac

Nah, seperti yang bisa kalian liat diatas ya, seporsi big mac itu mengandung 550 kcal dengan karbohidrat 46g, protein 25g dan lemak 29g.

Lalu kalau kita masuk ke gerai fast food, apakah kita cuman beli burger saja? Tidak. Kita pasti juga beli kentang dan minumannya.

1 porsi cola large mengandung 380 kcal dan 1 porsi medium fries McD itu 373 kcal.

Jadi total sekali makan itu: 550 + 380 + 373 = 1303 kcal

Padahal kebutuhan kalori pada masing-masing orang itu berbeda. Untuk chan aja itu ada di kisaran 1300-1500 kcal/harinya, ini normalnya. Bisa dibayangkan kalau pagi makan nasi goreng (400 kcal), siang beli McD (1303 kcal) dan malemnya nasi goreng lagi (400 kcal), asupan kalori perhariku 2103 kcal.

Ini belum ketambahan minum susu, minum latte/cappucinno, ngemil coklat, ngemil gorengan, makan es krim, makan permen, dan lain sebagainya. Itu saja sudah surplus 603 kcal per hari.

“emang apa sih akibatnya kalo kita kelebihan kalori?”

Kalau kamu emang kalap makan dalam satu hari aja, itu tidak akan berdampak pada tubuh. Masalahnya adalah kalau itu dilakukan setiap hari dan akhirnya menjadi kebiasaan. Kelebihan kalori sebanyak 600 kcal itu akan bertambah keesokan harinya, dan besoknya, dan besoknya terus seperti itu hingga akhirnya bagaimana?

Berat badan bertambah drastis.

“ah tapi chan, kan nggak mungkin kita makan paket Big Mac tiap hari”

iya bener.. nggak makan paket Big mac tiap hari. Lalu kamu pikir yang namanya Nasi Padang itu rendah kalori? Itu minimal 600 kcal sekali makan.

Biasanya, sebungkus nasi rendang juga ditemani oleh sayur nangka kuah santan, daun singkong rebus, dan sambal hijau. Nah, sebungkus nasi rendang punya total 664 kalori. Penyumbang kalori terbesar adalah protein dan karbohidrat, yaitu masing-masing 70 gram. Kemudian jumlah lemak mencapai 15 gram. – dikutip dari Halodoc.

“sarapanku pecel, chan..”

Tiap 1 porsi nasi pecel (120gr) mengandung 276 kkal, 38.09 g karbohidrat, 11.2 g lemak, dan 7.9 g protein (dikutip dari Kompas.com). Padahal kita kalau beli nasi pecel itu kira-kira per porsinya berapa gram ya? Kita tidak pernah ngitung kan? Tapi kalau perkiraan ecchan sih sekitar 250 gr per porsinya.

Sepertinya chan kudu stop sebelum tulisan ambyar ke perkara kalori lah, diet lah, ini itu lah *laughing* karena ecchan sekarang membahas perkara junk food dan kenapa kebanyakan makanan Indonesia itu bisa dikategorikan menjadi junk food.

Jadi sekali lagi, makanan itu disebut junk food karena kalori > gizi.

Sudah terbayang kira-kira seperti apa?

Dan jika kalori lebih banyak dari gizi, itu berarti kita hanya dapat kenyangnya saja. Gizinya juga dapat sih benernya, tapi tak sebanyak kalori yang kita dapatkan. Dan kebanyakan kalori berakibat pada penimbunan. Penimbunan kalori dijadikan menjadi apa? Lemak.

3

Nah. Paham nggak kenapa ujung-ujungnya berat badanmu menjadi naik drastis? Kalo buat ecchan sih, malah seneng banget bisa naik BB. Ya emang masalah manusia memiliki black hole di perut itu ya seperti inilah. Mau makan ngawur kayak gimana seperti apa tetep aja segini. Nggak usah iri ya. Jadi kurus itu (terutama underweight) sangatlah tidak enak.

Tapi berhubung ecchan sudah pernah merasakan underweight dan overweight (nggak sampe obesitas sih, cuman sangat mengganggu kehidupan), ecchan nggak mau macam-macam perkara kalori dan gizi lagi. I’m investing for my future health.

Okeh mungkin segini dulu? Kalau ada tambahan dari teman-teman, monggo ditambahkan di kolom komentar. Apalagi jika kalian memiliki background di dunia kesehatan, ecchan seneng banget untuk berdiskusi bersama mengenai hal ini.

Next mungkin ecchan akan membahas tentang pengolahan masakan yang benar, diet atau apalah yang mungkin saat itu ecchan ngerasa “wah sudah waktunya bahas ini nih.”

So start from today, love your body.
Jangan masukin sampah ke dalam badanmu.

Hai! Ecchan deshita!
~October 06, 2019~

Optimis

“Eh kamu tuh orangnya optimis ya. Semua hal itu positif aja dimatamu. Kira-kira ada gak sih hal negatif yang kamu lihat?”

Saya tuh sering banget diomongin seperti ini. Yang selalu optimis lah, yang melihat hal dari sisi positif lah. Padahal sih,  saya hanya menjalani hidup apa adanya saja.

Tapi bagaimanapun juga, yang bisa menilai diri kita ini kan orang lain ya, karena ia yang bisa melihat. Kalau kita menilai diri sendiri, biasanya kan yang baik-baik tuh. Tapi kalo orang lain bisa menilai baik dan buruknya.

Sehubungan dengan optimis, menurut saya optimis itu sebuah sikap untuk melihat dan menyikapi sesuatu dengan positif, apapun situasinya. Apakah saya dari lahir procot trus oek oek dan optimis? Yang saya yakini, sikap optimis ini lahir dari sebuah proses.

Diawali dari lingkungan keluarga yang positif, lingkungan sekolah juga positif, biasanya akan melahirkan anak yang optimis. Bagaimana kalau sedari awal lingkungan nya negatif? Tetap bisa kok, tapi perjuangannya berat banget.

Sumber: google

Proses untuk selalu positive thinking ini sama sekali tidak mudah. Ada saja halangannya. Dari yang dilecehkan, dibully secara verbal, siapa sih yang tahan dengan hal-hal seperti itu? Orang bermental baja saja bisa keok kalo dibully terus-terusan. Butuh satu orang yang tiada henti mendukung apa yang kamu lakukan. Bagaimana kalau tidak ada satupun yang medukung? Percayalah bahwa engkau hidup itu karena Tuhan masih sangat sayang kepadamu.

Proses untuk selalu berpikiran positif inilah yang lama-lama terpatri (karena terbiasa) dan akhirnya timbul yang namanya optimis.

Misalnya, pakbojo baru pulang jam 3 pagi karena harus berteduh di jalan. Sampai rumah diajak makan, setelah itu ybs tidur, dan saya tidak bisa tidur. Padahal ya badan capek. Lihat jam, lha kok sudah jam 4 pagi. Lihat sisi baiknya: saya orang yg susah bangun pagi. Jadi sekalian nungguin adzan shubuh. 

Eh lha kok tetep nggak ngantuk juga. Gimana mau ngantuk, lha wong kepikiran kalo tidur bisa bablas kesiangan soalnya jam 9 pagi ada acara. Ya sudah bikin draft postingan aja. Haha.

See?  Kalau segala sesuatu dibuat “enteng” dan positive, saya yakin hidup itu akan lebih bermakna. Daripada ngomel gara-gara nggak bisa tidur? Toh setelah sholat shubuh lebih baik jangan tidur lagi, kan? Hihi..

Salah satu quote yang paling saya suka, karena nampol banget:

Life’s not about how hard of a hit you can give… it’s about how many you can take, and still keep moving forward. – Rocky Balboa

Have a nice weekend, mate!
~tututwidhi, 24 September 2016~

Harus punya banyak akal..

Jadi ortu itu kudu banyak akal. Apalagi kalo anaknya susah makan, tantrum dsb dsb..

image

Pagi ini, sekar pengen makan ayam saja. Nasinya udh gk mau. Alhasil suwir2an ayamnya diambil pake tangannya. Nasinya masih banyak kan? Aq gak kehilangan akal, kubilang kalo di nasinya ada ayamnya. Dia lihat, eh diambil ayamnya doang dri sendoknya.

Dicoba lagi, kali ini ayam didepan nasi dibelakang. Mau diambil lagi ama sekar. Aq bilang, “maem semuanya dek, dari sendok”. Bener dia mangap.. maem dari sendok.. tapi yg dimaem ayamnya yg berada di ujung sendok.

Jadi benernya, yg punya banyak akal itu siapa ya? 😂😅😂😅

~tu2twidhi, 06012016~

tulisan tentang IRT vs ibu pekerja

CAPEK MANA?

Kita, ibu rumahtangga ini, tanpa sadar sering jadi ratu drama. Merasa diri menjadi orang paling teraniaya sedunia.

Kamu kan ibu rumahtangga juga,segitunya amat sih men-judge sesama?

Lha justru karena saya ini ibu rumahtangga, maka saya bisa menilai seberapa drama-nya saya grin emoticon

Gimana nggak drama, kalau yang saya baca adalah artikel yang hanya mendukung penilaian tinggi tentang diri saya saja. Dan mengelu-elukan profesi saya yang konon paling mulia sejagat raya.

Suatu ketika, di saat emosi sedang mencapai puncaknya, dan kelelahan fisik mendera, kita pernah donk berandai-andai jadi ibu pekerja.. yang wangi berseri setiap pagi, dengan dandanan natural dan tas yang selalu ganti..

Sedang kita masih seperti serigala kesurupan membangunkan anak-anak yang susah makan. Belum mengurusi kaus kaki suami yang keselip entah kemana.. segala keruwetan dunia sepertinya tertumpah ke kita semata.

Kita akan berfikir, sekaligus jumawa, kira-kira bisa nggak ya, ibu pekerja itu melakukan hal-hal yang kita lakukan ini? Makan siang sambil nyebokin anak BAB, tidur siang sambil berdiri (asli ini pernah saya lakukan saking lelahnya momong dua Balita), menggoreng ikan sambil menggiling pakaian sekaligus menggendong bayi, dan mendongeng buat kakaknya.. bisa nggak ya?

Sedangkan mereka pagi-pagi sudah cantik, seolah tinggal mengurusi diri sendiri saja. Anak-anak ada asisten yang entah mengapa betah kerja bertahun-tahun dengan mereka, sedang asisten kita tiap bulan minta resign karena tak betah punya majikan ibu rumahtangga..

Uang, mereka jelas ada. Suami..nggak kalah ganteng dengan suami kita. Status sosial..oh mereka di atas kita. Kita kalah telak kalau mau bersaing dengan mereka. Ditambah entah mengapa kecantikan mereka rasanya di atas rata-rata. Lengkaplah sudah penderitaan kita..

Apa bisa mereka melakukan apa yang kita lakukan?

Padahal.. di sisi lain..

Saat ibu cantik itu melewati rumah kita ketika hendak berangkat kerja, mereka ingat akan kerinduan menyuapi nasi goreng ke perut anaknya.

Perjalanan menuju kantor itu sendiri tidak pernah mudah. Apalagi tinggal di ibukota yang kalau dituruti, jalan raya ini bisa bikin gila.

Mereka harus berdesakan dengan banyak orang di dalam kereta, di dalam bis kota. Berpeluh-peluh padahal matahari belum juga tinggi.. bisakah kita melewati pagi dengan hiruk pikuk begini?

Di kantor..tumpukan pekerjaan menanti. Bos ngomel tiada henti. Deadline menunggu ditepati. Sementara pembantu di rumah SMS melaporkan si bayi yang panas tinggi.. bisakah kita melalui hari semacam ini?

Kita makan siang sambil nyeboki. Mereka bisa jadi tak sempat makan karena jam istirahat harus ia tebus untuk memompa ASI. Atau lari ke apotek demi membeli obat si bayi..

Kita punya suami yang sangat mengerti. Gajinya tak pernah dianggap uangnya sendiri. Mereka yang kita anggap punya uang tak berseri itu, bisa jadi tak pernah menikmati uangnya sendiri karena cicilan menanti. Atau suami yang tak tahu diri.

Kita masih bisa menunda PR anak di siang hari, ketika lelah, untuk dikerjakan malam nanti. Tapi mereka, tak boleh ada kata lelah sepulang kerja. Karena anak mana pernah bisa ditunda. Mengingat hanya malam yang mereka punya.

Kita bisa menyegerakan tidur kala badan serasa habis digebuki. Toh esok masih ada hari. Tapi mereka hidup untuk anak dan suami hanya pada malam hari. Esok pagi berarti tak ada hari yang terluang kembali.

Kalau ini yang terjadi pada kita.. bisa jadi kita yang lebih dulu menyerah daripada mereka.

Kita lelah, itu sudah pasti. Ibarat petani, kita sedang memasuki mongso labuh. Masa menanam yang capeknya lahir dan batin.
Tapi bukan berarti ibu yang bukan ibu rumahtangga memiliki level kelelahan di bawah kita. Mana pernah kita tahu di balik seragam cantik itu, ada sepotong hati yang pilu?

Seorang ibu, apa pun profesinya, adalah ibu terbaik untuk anak-anak mereka.

Mari jadi ibu rumahtangga yang fokus mengurus rumah kita saja. Biarlah mereka dengan dunia dan rumah mereka. Tak perlu membandingkan. Apalagi menyesali pilihan. Ingatlah selalu, dalamnya masalah setiap orang tak pernah ada yang tahu

Karena menjadi ibu, mau bekerja ataupun tidak bekerja, dia tetap orang yang melahirkan anak-anaknya.

Salam ibu rumahtangga – Wulan Darmanto

tulisan ini bener banget.
tahukah kamu hatiku tercabik-cabik ketika harus meninggalkan bayi belum genep 2 bulan untuk kerja. apalagi pas sakit, mau gak mau absen dengan konsekuensi bakalan kena SP bahkan dipecat karena bayinya sakit lebih dari seminggu selama 2 bulan berturut-turut.

sudahlah nggak usah iri ama ibu pekerja. kamu gak tahu bagaimana mereka mengatur hati dan pikiran sedemikian rupa di kantor. seharusnya kamu bersyukur bisa dirumah mengurus anak dan rumah walaupun itu juga tidak mudah. toh, kalo anak2nya udah gede dan bisa ditinggal, bisa kerja kan?

sudah ya, nggak usah menilai lebih mulia mana, IRT atau ibu pekerja. sama-sama mulianya. karena apapun yang mereka lakukan itu demi kelangsungan keluarganya. sekarang tinggal kamunya memilih, mau ngurusin rumah tangga atau kerja. capek mana? sama capeknya.. percaya deh..

~dari seorang ibu yang dulunya bekerja kantoran, sekarang menjadi ibu yang bekerja dirumah. simpelnya, kini menjadi IRT~