Terima Kasih, Ibu  

Pagiii yukk yukk.. daftar seminar kopdarnya?

Sekali datang dapat banyaaakk ❤

Yg pasti ada pojok gendongan.. ada 3 gendongan baru yg lagi otw ke library dan bisa dicoba pas kopdar yaa.. ssc nana, fly dai nana, dan onbuhimo foglia.. siapaa yg penasaran sama gendongan2 ini dan juga gendongan2 lainnyaa? Cuss daftar.
Selain pojok gendongan, ada apa lagi? Banyaaakk..

Salah satunya talkshow keren dg 3 dokter ❤ 

– yg masih bingung milih gendongan mana yg cucok, yuk gabung..

– manfaat gendong buat anak, pasti udah tauu.. tapi manfaat gendong buat ibu ato penggendong apa yaa 🤔 dapatkan jawabannya disini ❤
Yg masih suka disindirin, ditegur, dinyinyirin sana sini ttg cara kita gendong anak kita, yuk diajak aja mereka ke seminar ini hihihihiii…
– gigi anakku kok begini begitu yaa, gimana cara menjaga kesehatan giginya? tanyaa deh ama pakarnya disini 😘
Oyaa, ada fasilitas pemeriksaan mata gratis juga lhoo dari kliniknya.. kali2 ada yg punya masalah dg mata, mungkin setelah lahiran ngerasa ada sesuatu yg berbeda dg penglihatannya, bisa periksa disini
Tak hanya itu saja..
Abis lahiran, jaga anak, begadang, anak mulai ngerangkak, capek ngetutno kesana kesini,  muka lelah letih kusam jerawaten, mata panda 🐾
Duuhh, pingin deh bisa cantik bersinar blink blink kaya’ dulu.. gimana yaa..
Tenaang, ada beauty class dari brand makeover disini uhuyyy.. tanya tips2nya gimanaa biar wajah tetap kinclong biar suami makin sayaang, gampang acc kalo kita pingin beli gendongan lagi ihihihiii?😍
Yuk yuk segera daftar yaaaa….

~tu2twidhi, 12.12.2017~

Advertisements

Jadi ibu itu, berat!

​Banyaknya pemberitaan berkeliaran tentang ibu menginjak-injak anaknya, sampai dengan memutilasi anaknya yg masih berusia 1tahun itu bikin miris ya.

Tidak semua anak-anak manis seperti di iklan susu atau iklan sabun mandi

“Itu ibu gimana sih? Sehat?”

“Dimana sih akal sehatnya?”

“Kok tega sih begitu ama anak sendiri?”

“Itu agamanya kurang makanya tega”

Dan beribu komen dan hujatan kepada ibu tersebut tentang perbuatannya.

Kalau mau melihat dengan hati tenang dan pikiran dingin, seharusnya kita lihat “KENAPA” si ibu bisa melakukan hal tersebut. Hey man, tak ada api jika tak ada asap. Semua itu pasti ada sebabnya.
Sayangnya masyarakat kita ini kebanyakan judgmental, terutama di sosmed. Jadi pemberitaannya dibagikan dan ditambahi komen yang kurang enak.

Hey! Jadi ibu itu berat lho, terutama dalam mengatur emosinya. Bayangkan saja, dalam satu hari ia harus:

  1. Bangun lebih pagi, sholat/berdoa lalu menyiapkan sarapan buat suami dan anaknya.
  2. Mengantar anak ke sekolah, menungguinya sampai selesai.
  3. Sementara itu pekerjaan rumah menumpuk mulai dari menyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, masak makan siang-malam. Belum lagi kalo anak minta dibelikan camilan. Dan bagi yang punya anak balita, yang namanya rumah pasti berantakan karena mainan berserakan, makanan yang dilempar-lempar, ompol anak dsb.
  4. Belum lagi kalo si anak minta ditemani: main, cerita, tidur, sehingga si ibu menghentikan aktivitasnya untuk menemani si kecil.
  5. Anak tidur, ibu lanjut mengerjakan pekerjaannya. 
  6. Tak terasa sudah sore. Waktunya memandikan anak, dengan segala dramanya: nggak mau mandi, kejar2an buat bukain baju, mandi pake nangis, mandi gk mau kelar-kelar sampai kulit keriput. begitu kelar, anaknya nggak mau pake baju. Yassalam dah ya, bisa sejam sendiri buat ngebuka baju ampe pake baju lagi.
  7. Anak sudah ganteng-cantik, lha kok mainan pasir/bedak/makanan apapun yg bikin dirinya kotor lagi. Akhirnya dimandiin lagi, dan drama lagi Orz Orz
  8. Malam tiba, tenaga emboknya udah 10%, anaknya masih 80%, dan kerjaan rumah belum kelar T︵T
  9. Anak akhirnya tidur, si ibu belum tidur karena berberes rumah yang berantakan.

Ini belum termasuk drama anak nggak mau makan (gtm/gerakan tutup mulut), anak tantrum karena sebab yang tidak diketahui, sakit dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan capeknya?

Abis ada gempa?
Abis mandi, makan es krim, lha kok ditoletin semuka sih, dek? ˚D˚
Mainan bedaaaak ^ω^

Dan bisa dibayangkan capeknya jika ibu tersebut juga bekerja? Karena ibu pekerja selain mengerjakan pekerjaan domestik, ia juga harus meluangkan waktu buat anaknya selelah apapun itu.

Dengan segudang kegiatan tanpa henti tersebut, sudah sepantasnya seorang ibu membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Karena motherhood itu kejam, kawan! Ibu satu bisa menyakiti ibu lainnya dengan cara: membandingkan anaknya dengan anak org lain.

“Anaknya kecil ya. Makannya gimana?”

“Duh ibu, anaknya dikasih makan apa sih kok beratnya gak naik2?” diucapkan oleh ibu-ibu posyandu (._.)

“Anak saya sudah bisa A, B, C lho di usia 2,5th. Makanya bu, anaknya disekolahkan biar pinter”

Dan lain sebagainya..

Suami itu memiliki peran utama agar istrinya tetap “waras”. Sayangnya masih banyak suami yang tidak mau tahu pengorbanan istrinya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Masih banyak lho suami yang seperti itu. Tau istrinya kewalahan dengan rumah dan anak2nya, eh si bapak malah asyik mainan dengan ponsel pintarnya atau ngakak-ngakak ama temen2nya.

Jika si ibu dibiarkan seperti itu, lama2 kondisi kejiwaannya makin parah lho. Bisa dilihat di gambar diatas ini.

“Alhamdulillah istriku baik2 aja kok, chan. Ia bisa mengatur emosinya”

Eh hati-hati. Baby blues, depression dan psychosis itu datangnya diam-diam lho. Dan kebanyakan perempuan tidak terbuka dengan hal ini. Saya saja sempat kena baby blues.

Si ibu yg mengunggah video menginjak2 anaknya itu ternyata sedang kesal karena suaminya menuduh si istri menjual diri di “bukumuka”. Bisa dibayangkan betapa sakit hati istri dikatakan begitu oleh suaminya?  Bisa jadi si istri tidak melakukannya lalu suami mengatakan hal tersebut tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali, dan ketika ia mau membantah, malah diancam suaminya yang A B atau C lah.

“Ah, harusnya ya marah ke pasangannya dong. Jangan dilampiaskan ke anak”

Bagaimana rasanya kalau kamu dikatakan menjual diri oleh pasanganmu? Pasti marah, nggak terima dan masih banyak lagi. Terlebih kalau tidak bisa langsung membantah tuduhan tersebut dan memilih diam. Ya akhirnya seperti itu. Anak yang kena kekesalan si ibu.

Memang ada kok seorang ibu yang sadar dan tega ama anaknya, tapi juga banyak banget ibu yang menjadi “korban” perasaan hingga tidak sadar menjadi tega terhadap anaknya.

Membaca berita tentang ibu-ibu yang seperti itu, chan hanya bisa berdoa agar permasalahan si ibu bisa diselesaikan dengan baik, dan suami & lingkungannya mau bekerja sama untuk menyembuhkan kondisi psikologis si ibu.

Ia membutuhkan pertolongan bukan penghakiman.

Jadi kawan, ada baiknya kita menyenangkan teman-teman kita yang sudah menjadi ibu. Bahagiakan hatinya, bahagiakan dirinya. Ibu adalah seseorang yang mendedikasikan hidupnya demi anak-anaknya dan (berusaha untuk) tidak mengeluh dengan keadaannya.


Selamat hari Jum’at, kawan!

~tu2twidhi, 7 Oktober 2016~